SinarHarapan.id – Presiden RI Prabowo Subianto mengajak para ulama dan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam untuk merapatkan barisan mendukung upaya diplomasi Indonesia dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah. Dalam pertemuan silaturahmi sekaligus buka puasa bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/3), Presiden juga menjelaskan berbagai langkah diplomasi yang tengah ditempuh pemerintah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Salah satu yang dibahas adalah keterlibatan Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BoP) yang berupaya mendorong terciptanya perdamaian di Palestina, khususnya di Gaza.
Ulama sekaligus Sekretaris Majelis Syuro DPP Front Persaudaraan Islam, Habib Hanif Alatas, mengatakan Presiden menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih memilih bertahan dalam forum tersebut sebagai bagian dari ikhtiar diplomasi. Namun, Indonesia juga membuka kemungkinan untuk menarik diri apabila keikutsertaan itu tidak lagi memberikan manfaat bagi perjuangan Palestina maupun kepentingan nasional.
“Presiden tadi menyampaikan kalau melihat tidak ada kemaslahatan lagi untuk Palestina, tidak ada peluang buat memperjuangkan kemaslahatan Palestina dan tidak sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia, Presiden akan menarik diri,” ujar Hanif usai pertemuan.
Menurut Hanif, Presiden dalam kesempatan itu juga memaparkan perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk dinamika konflik yang melibatkan sejumlah negara besar di kawasan tersebut.
Forum Diplomasi untuk Palestina
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mengatakan, Presiden memahami adanya desakan dari sebagian pihak agar Indonesia keluar dari Board of Peace. Namun, menurut Presiden, forum tersebut saat ini masih menjadi jalur diplomasi yang paling realistis untuk memperjuangkan perdamaian di Palestina.
“Pak Presiden juga mempertanyakan, kalau seandainya ada yang mendesak kita keluar dari BoP, terus tawarannya kita berunding dalam rangka menciptakan perdamaian itu di forum apa?” kata Nusron.
Ia menambahkan, hingga kini BoP dinilai sebagai satu-satunya forum yang dapat digunakan untuk mendorong perundingan perdamaian terkait konflik Palestina, khususnya di Gaza.
Karena itu, Nusron mengajak masyarakat untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi Indonesia agar terlebih dahulu menunjukkan hasil.
“Posisi Pak Presiden, bangsa Indonesia sudah menerima BoP ini sebagai sarana, sebagai ikhtiar menuju perdamaian. Setidaknya ikhtiar ini dicoba dulu. Jangan sampai ikhtiar dan usahanya belum dilakukan, sudah diminta untuk keluar terlebih dahulu,” ujarnya.
Ulama Diminta Rapatkan Barisan
Dalam pertemuan tersebut, Presiden juga mengajak para ulama untuk mendukung posisi Indonesia dalam mendorong terciptanya stabilitas kawasan Timur Tengah. Nusron menyebut Presiden berharap para pimpinan organisasi masyarakat Islam dapat berdiri bersama pemerintah dalam memperjuangkan perdamaian.
“Berharap kepada pimpinan ormas, tokoh-tokoh Islam ini bersama dengan Bapak Presiden dalam satu barisan, bersama-sama memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah,” kata Nusron.
Presiden, lanjutnya, juga menaruh perhatian besar pada potensi meluasnya konflik di kawasan, terutama jika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berkembang menjadi perang terbuka.
“Jangan sampai perang terjadi antara Iran dengan Amerika, serta akan berdampak terhadap gejolak di Timur Tengah,” ujarnya.
Pemerintah, kata Nusron, terus memantau perkembangan konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, serta menyiapkan langkah-langkah mitigasi agar dampaknya terhadap Indonesia dapat diminimalkan.
Upaya Mediasi Indonesia
Selain melalui forum Board of Peace, Indonesia juga berupaya mendorong dialog langsung antara pihak-pihak yang terlibat konflik. Nusron menyebut Presiden menginginkan adanya pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka ruang perundingan.
Langkah diplomasi tersebut, menurut Nusron, mendapat sambutan positif dari sejumlah negara di Timur Tengah dan negara Islam lainnya.
“Langkah-langkah yang diambil Pak Presiden itu mendapat support dari beberapa negara Timur Tengah dan negara Islam lain. Termasuk dari Pakistan, juga UAE (Uni Emirat Arab),” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia yang akan memimpin forum D-8, kelompok negara ekonomi berkembang berpenduduk mayoritas Muslim, juga berupaya mendorong komitmen bersama untuk menjaga perdamaian di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
“Intinya, Pak Presiden bersama tujuh pemimpin negara yang tergabung dalam kelompok delapan itu menginginkan adanya perdamaian. Jangan sampai perang berlarut-larut terutama di Iran maupun di kawasan Teluk,” ujar Nusron.
Persatuan Nasional Hadapi Gejolak Global
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan persatuan nasional dalam menghadapi dinamika geopolitik global.
Menurutnya, pemerintah memilih jalur dialog sebagai pendekatan utama dalam menyikapi konflik internasional, sekaligus memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi.
“Sehingga apa pun kondisinya, perang Amerika-Iran, kondisi peta geopolitik, kita tetap kuat bersatu, solid, tidak mudah dipecah belah, dan yang penting semua yang dilakukan Presiden adalah untuk kepentingan nasional,” kata Muhaimin.
Pemerintah juga terus mengantisipasi potensi dampak konflik terhadap stabilitas ekonomi nasional, termasuk kemungkinan gangguan terhadap pasokan energi maupun pangan apabila ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat.
Di sisi lain, para ulama dan pimpinan organisasi Islam yang hadir dalam pertemuan tersebut disebut sepakat untuk terus menjalin komunikasi dengan pemerintah serta mendukung berbagai upaya diplomasi Indonesia dalam mendorong terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah.










