Nasional

Puncak Apresiasi Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026: Menjaga Tradisi Lisan di Era Digital

×

Puncak Apresiasi Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026: Menjaga Tradisi Lisan di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan Berikan Penghargaan kepada 36 Pendongeng Terbaik Nusantara.(Doc: Redaksi)
Menteri Kebudayaan Berikan Penghargaan kepada 36 Pendongeng Terbaik Nusantara.(Doc: Redaksi)

SinarHarapan.id-Gelora semangat melestarikan budaya Nusantara terpancar dari Graha Utama Gedung A Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada Rabu siang. Puluhan pendongeng dari berbagai penjuru tanah air berkumpul dalam Puncak Apresiasi Karya Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026, sebuah momentum puncak dari perjalanan panjang pengumpulan karya yang berlangsung selama sebulan penuh.

Program yang digagas Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini berhasil mencatatkan capaian luar biasa. Dalam periode pendaftaran 20 April hingga 20 Mei 2026, sebanyak 2.797 peserta dari berbagai latar belakang mengirimkan 1.737 karya video mendongeng. Angka ini sekaligus membuktikan bahwa cerita rakyat tetap memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia, bahkan di tengah gempuran konten digital yang serba cepat.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.(Doc : Istimewa)
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.(Doc : Istimewa)

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia secara langsung menyerahkan penghargaan kepada 36 peserta terbaik yang terbagi dalam enam kategori.

Menteri Kebudayaan menegaskan pentingnya pelestarian tradisi lisan dan dongeng sebagai bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia yang harus diwariskan kepada generasi muda.

Ia mengingatkan bahwa kebudayaan sering keliru dipahami hanya sebatas kesenian. Padahal, menurutnya, cakupan budaya sangat luas, meliputi bahasa, tradisi lisan, sastra, adat istiadat, ritus, manuskrip, pengetahuan tradisional, hingga seni dalam berbagai ekspresinya—semuanya membentuk identitas bangsa.(24/6)

Mereka adalah para perawat warisan leluhur yang berhasil mengemas kisah-kisah klasik dalam balutan teknologi kekinian dengan tetap menjaga nilai-nilai otentik cerita asli daerah masing-masing.

“Program ini membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara-cara konvensional. Pendekatan digital justru membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat,” ungkap Neno Warisman, salah satu dewan juri yang turut hadir dalam acara tersebut.

Kehadiran enam kategori kompetisi menjadi cerminan inklusivitas program ini. Kategori Anak, Remaja, Orang Tua, Pendidik, Umum, dan Inklusi menunjukkan bahwa upaya menjaga tradisi lisan adalah tanggung jawab kolektif lintas generasi. Para pendongeng cilik seperti Aqhila Arsenio Reynanda dari Sumatra Utara dengan kisah Keadilan di Tanah Tumapel, hingga pendongeng dari kategori orang tua seperti Rusmanadi yang membawakan Ketawak di Gunung Penyabung, semuanya mendapat apresiasi setimpal.

Keberhasilan Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 menjangkau seluruh 34 provinsi menjadi bukti nyata bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak pernah kehabisan cerita untuk dibagikan. Dari Aceh hingga Papua, kisah-kisah seperti Asal Mula Tradisi Mapejuywit, Legenda Batu Menangis, hingga Rambut Sindang Dari Kuningan kembali dihidupkan melalui suara-suara penuh penghayatan.

Tidak hanya para pemenang, semua peserta yang telah berkontribusi dalam program ini patut mendapat apresiasi. Mereka adalah garda terdepan dalam upaya mendokumentasikan kembali cerita rakyat yang selama ini hanya tersimpan dalam memori kolektif masyarakat. Melalui gawai dan platform media sosial, cerita-cerita tersebut kini dapat diakses oleh generasi muda dengan cara yang lebih akrab dengan keseharian mereka.

Para dewan juri yang terdiri dari Kak Heru, Kak Awam Prakoso, Kak Ojan, Kak Rona Mentari, Kak Budi, Kak Agus, Bunda Neno Warisman, dan Kak Mulyana memiliki tugas berat dalam menyaring ribuan karya. Namun, antusiasme dan kualitas cerita yang disampaikan membuat proses seleksi menjadi pengalaman yang menggugah semangat kebangsaan.

Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 menjadi tonggak penting dalam perjalanan pelestarian budaya bangsa. Program ini tidak sekadar lomba mendongeng, tetapi sebuah gerakan kolektif untuk memastikan bahwa tradisi lisan Nusantara tetap hidup, berkembang, dan terus menginspirasi anak-anak Indonesia di masa depan. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, pegiat budaya, pendidik, dan masyarakat, cerita rakyat Indonesia akan terus berkibar sepanjang masa.

Daftar Pemenang :

Kategori Anak: 1. Aqhila Arsenio Reynanda – Keadilan di Tanah Tumapel 2. Anak Agung Gede Krisna Adi Nugraha – Asal Mula Tradisi Mapejuywit 3. Orlin Atha Rachma Saleh – Asal Usul Balum Bili Dari Aceh Besar 4. Ayasha Maulidiasyah – Uwiao Ular Naga 5. Arsene Joy Syandi Pasarbu – Si Beru Dayang 6. Syafira Zafin Artya – Legenda Batu Menangi

Kategori Remaja : 1. Mursid Yoga Pratama – Sang Kera Dan Buaya 2. M. Firdaus Al-Kautsar – Dadung Yang Mengikat Hati 3 Noor Darine Salsabilla – Perempuan Pembawa API dari Pulau Hafalan 4. Hangganararas Tyas – Asal Usul Kota Cianjur 5. Melinda Rahmawati – Si Kabayan Moro 6. Ladziyana Juni Maryama – Rambut Sindang Dari Kuningan

Kategori Orang Tua : 1. Rusmanadi – Ketawak di Gunung Penyabung 2. Sri Meidiana – Asal-Usul Padhukuhan Dhayu 3. Rusmiati – Bir Pletok Kebanggaan Jakarta 4. Dyan Arfiana Ayu Puspita – Pangeran Purbaya Dan Pasukan Lebah 5. Ainur Basirah Mulya – Samba Paria Dari Tanah Mandar 6. Putri Khalidah – Ibu Kandungku Seekor Kucing

Kategori Pendidik : 1. Fauzi Rahmat Nugraha – Situ Bagendit 2. Ihan Imtihan – Kebo Gerem 3. Mujadid Sigit Aliah – Makkaraja Carita 4. Wahyuddin – Lalu Lepang Kuning Dan Dedara Pitu 5. Atiril Atifah – Ayam Jago Panji Laras 6. Brian Dhwi Frediaty – Legenda si curhing.