Foto: Ilustrasi.

StockReview.id – Kinerja PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) diramal masih akan cukup baik di tahun 2024. Hal ini seiring dengan perolehan laba bersih yang terbilang solid di tengah penurunan harga batubara sebesar US$ 364 juta, meski angka tersebut turun 18,3% secara year on year (yoy).

Junior Research Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty Hafiya mengatakan, meski laba bersih ADRO tertekan akibat penurunan harga batubara namun perlu digaris bawahi bahwa kinerja ADRO cukup apik, dengan tumbuh sebesar 5% secara tahunan.

“Hal tersebut membuktikan, kinerja Adaro Energy sebetulnya cukup baik namun tertekan oleh harga batubara yang semakin menurun,” kata Izzaty.

Izzaty meyakini, bahwa pertumbuhan produksi maupun penjualan ADRO akan konsisten hingga akhir 2024. Selain itu, dia memperkirakan laba Adaro Energy di tahun ini akan didorong oleh selisih yang lebih rendah antara harga batubara Newcastle dan ASP ADRO.

Namun, Izzaty mengakui bahwa beberapa tantangan perlu dihadapi ADRO. Salah satunya yakni, penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) meningkat terutama di negara-negara konsumen batubara terbesar.

Misalnya, Tiongkok yang mana berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), negara itu telah memasang sebesar 350 Giga Watt (GW) di tahun 2023. Di sisi lain, India memilliki target untuk menambah kapasitas EBT sebesar 500 GW hingga tahun 2030.

Kendati begitu, Izatty berpendapat, operasi berbiaya rendah dan cadangan yang melimpah akan mampu menopang perolehan Free Cash Flow (FCF) ADRO yang kuat, disertai pembagian dividen untuk investor jangka panjang. Meskipun kinerja terdampak siklus koreksi harga batubara saat ini.

Selain itu, dia menuturkan bahwa produksi batubara yang ditingkatkan menjadi 67 juta ton di tahun 2024 juga akan menyokong pendapatan ADRO di tahun 2024. Sehingga, bertambahnya pendapatan diharapkan bisa mengimbangi potensi penurunan harga jual batubara.

“Jadi saya kira target produksi ADRO tersebut mudah saja tercapai karena ADRO merupakan salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia. Apalagi ADRO memiliki proyek pembangkit listrik sendiri. Namun yang perlu diperhatikan adalah kesediaan target pasar dari produksi tersebut,” imbuhnya.

Untuk diketahui, manajemen ADRO menargetkan volume produksi batubara di tahun 2024 sekitar 65-67 juta ton. Campuran produksi terdiri dari 61-62 juta ton batubara termal dan sekitar 4,9-5,4 juta ton batubara metalurgi dari Adaro Minerals.

Dengan faktor-faktor tersebut, Izzaty merekomendasikan Buy long term, atau beli dalam jangka panjang untuk ADRO, dengan target harga Rp 3.080 per saham.