SinarHarapan.id-Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 berada di kisaran 5,2% secara tahunan. Angka ini memberikan angin segar di tengah ketidakpastian global yang masih menyelimuti perekonomian nasional menjelang rilis data Badan Pusat Statistik (BPS).
Proyeksi optimistis tersebut terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB). Meski kehilangan momentum, penjualan eceran riil kembali tumbuh 1,3% setelah sempat terkontraksi pada kuartal sebelumnya, memberikan bantalan penting bagi stabilitas ekonomi domestik.
Pembedanya pada kuartal III adalah kinerja ekspor manufaktur yang mulai pulih dan menahan perlambatan lebih dalam. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global naik dari 52,4 pada September menjadi 54,0 pada Oktober 2026, menandai level tertinggi sejak Maret 2024 dengan pesanan ekspor baru tumbuh tercepat sejak survei dimulai.
Research Director Prasasti, Adhi N. Saputra, menilai pelemahan rupiah membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global. Ekspor industri pengolahan tercatat naik 16,78% YoY pada September, terutama berasal dari produk turunan sawit dan elektronik yang menjadi primadona di pasar internasional.
Namun, angka kuartal III yang solid ini dinilai belum mencerminkan tekanan sesungguhnya. Dampak terberat dari harga minyak, El Niño, dan kebakaran hutan dan lahan diperkirakan baru akan terasa penuh pada kuartal IV, tepat ketika ekonomi justru dituntut tumbuh lebih cepat untuk mengejar target APBN.
Dari sisi eksternal, konflik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi dunia mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) rata-rata hampir US$92 per barel pada Januari–September 2026. Angka ini jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70, memberikan tekanan berat pada neraca eksternal dan defisit transaksi berjalan yang melebar.
Anggota Board of Advisors Prasasti, Burhanuddin Abdullah, menegaskan fungsi suku bunga telah bergeser menjadi jangkar kepercayaan. Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin menjadi 5,75% sepanjang tahun ini untuk memprioritaskan stabilitas makroekonomi di tengah tekanan rupiah yang berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan tersebut sulit diredam karena ruang fiskal dan moneter terbatas. Harga minyak yang kembali melonjak berisiko menaikkan beban subsidi energi pada kuartal IV, sementara outlook defisit sudah mendekati batas 3% PDB, membuat pemerintah harus ekstra hati-hati dalam menggelontorkan stimulus tambahan.
Senior Economist Prasasti, Piter Abdullah, menyarankan pemerintah memprioritaskan kebijakan non-fiskal seperti relaksasi hambatan dagang non-tarif dan kepastian regulasi. Percepatan penetapan Neraca Komoditas 2027 menjadi mendesak agar dunia usaha dapat menyusun rencana operasional yang terukur menghadapi momentum Natal, Tahun Baru, dan Ramadan.





