SinarHarapan.id-Dari ruang Dialog Publik, isu Perawatan Jangka Panjang (PJP) bagi lanjut usia kembali diletakkan di pusat perhatian. Arunala Institute and Foundation Indonesia membedah usulan kebijakan dengan pijakan kaji cepat soal persepsi menua serta kemampuan dan kemauan membayar masyarakat. Warga, periset, dan pemangku kepentingan duduk dalam satu meja.
Kaji cepat itu menyoroti kebutuhan remunerasi yang layak bagi tenaga profesional. Tanpa imbalan memadai, mutu layanan PJP rawan rapuh. Arunala menilai profesi perawatan mesti dipandang sebagai kerja bernilai tinggi, bukan beban tambahan belaka. Pendekatan ini menjadi fondasi kepercayaan publik terhadap layanan jangka panjang yang manusiawi.
Langkah strategis berikutnya ialah pengembangan layanan berbasis komunitas berupa care centre atau day care. Layanan mesti terjangkau, selaras dengan keinginan dan kemampuan membayar atau WTP/ATP masyarakat. Akses dekat rumah membuat perawatan tidak lagi terasa mewah. Model ini menjaga lansia tetap terhubung dengan lingkungan sosialnya.
Arunala juga mendorong pembangunan sistem informasi dan rujukan terpadu. Basis data dari RT/RW sampai fasilitas kesehatan lanjutan perlu terhubung. Dengan begitu, kebutuhan lansia dapat terlacak lebih cepat, rujukan tidak tersendat, dan keputusan layanan lebih tepat sasaran. Data menjadi jembatan antarsektor yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Seluruh usulan kebijakan itu dibahas mendalam dalam Dialog Publik. Forum ini mempertemukan gagasan riset, pengalaman lapangan, dan kepentingan warga. Hasilnya diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menjelma langkah nyata bagi perlindungan sosial lansia. Termasuk kebutuhan populasi menua yang terus meningkat.
Rangkaian kaji cepat ini dijalankan Arunala Institute and Foundation Indonesia sebagai bagian Program Catalyzing Change: Strengthening Civil Society Capacity and Collaboration for Social Protection Research and Advocacy. Program berlangsung dalam rangka Hari Lansia Internasional 2026 dan mengangkat isu perawatan jangka panjang secara lebih luas. Agenda itu menyentuh ruang kebijakan yang selama ini jarang dibahas terbuka.
Program kerja sama internasional Global South ini didukung CISU (Civil Society in Development, Denmark). Koalisi masyarakat sipil lima negara mitra terlibat, yaitu RAISE (Denmark), ISER (Uganda), IEJ (Afrika Selatan), ESI (Armenia), serta Cedos (Ukraina). Jaringan lintas negara memperkuat kapasitas riset dan advokasi kebijakan. Pengalaman tiap negara saling melengkapi.
Melalui kolaborasi itu, Arunala bersama mitra berjejaring memperkuat pembelajaran bersama. Fokusnya advokasi kebijakan agar sistem perlindungan sosial lebih inklusif, terintegrasi, dan responsif terhadap meningkatnya kebutuhan perawatan jangka panjang. Pengalaman lima negara menjadi cermin untuk Indonesia. Tidak ada satu negara pun yang bisa berjalan sendiri.
Arunala Institute and Foundation Indonesia adalah organisasi riset, kebijakan, dan pengembangan ekosistem independen dengan model think-and-do tank. Organisasi ini didirikan pada Hari Lanjut Usia Nasional Indonesia, 29 Mei. Misi besarnya mendefinisikan ulang penuaan dan membangun masyarakat tempat setiap orang menua dengan martabat. Gagasan itu menjadi kompas kerja organisasi.
Visi itu mencakup tujuan, keamanan, dan kesejahteraan bagi warga lanjut usia. Bagi Arunala, penuaan bukan akhir cerita, melainkan bab baru yang perlu disiapkan bersama. Dialog Publik menjadi penanda bahwa perlindungan sosial bagi lansia harus dibangun hari ini, bukan ditunda. Kini bola ada di tangan para pembuat kebijakan dan masyarakat.


