Nasional

150 Alumni LPDP Dikirim ke 4 Wilayah 3T, Jadi “Teman Belajar Digital” di SD

×

150 Alumni LPDP Dikirim ke 4 Wilayah 3T, Jadi “Teman Belajar Digital” di SD

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Pemerintah tidak sekadar mengirim perangkat digital ke sekolah tertinggal. Kali ini, yang dikirim adalah otak-otak terbaik bangsa. Sebanyak 150 alumni penerima beasiswa LPDP resmi diterjunkan sebagai “teman belajar digital” di 150 sekolah dasar wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Pelepasan dilakukan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Auditorium Kantor Sekretariat Wapres, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Para alumni ini akan bertugas selama 12 minggu, terhitung mulai April hingga Juni 2026.

Di mana mereka ditempatkan? Empat wilayah menjadi lokasi misi pendidikan ini: Merauke (Papua Selatan), Halmahera Utara (Maluku Utara), Kupang (Nusa Tenggara Timur), dan Sumedang (Jawa Barat). Ya, meski Sumedang tidak sepopuler 3T lainnya, daerah ini masuk dalam prioritas karena ketertinggalan akses digitalnya.

Apa tugas mereka? Bukan menggantikan guru. Menteri Abdul Mu’ti menegaskan, para alumni hadir sebagai mitra inovasi. “Peserta hadir sebagai teman belajar digital dan mitra inovasi untuk bersama-sama menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik bagi murid,” ujarnya. Mereka akan mendampingi guru memanfaatkan Interactive Flat Panel (IFP), papan interaktif digital yang sudah didistribusikan ke sekolah.

Mengapa program ini penting? Pemerintah sadar bahwa perangkat canggih tanpa pendampingan hanya akan menjadi pajangan. Selama ini, kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah 3T dan perkotaan semakin lebar. Dengan kehadiran alumni LPDP—yang merupakan lulusan dalam dan luar negeri—diharapkan terjadi percepatan transformasi digital yang merata.

Empat fokus utama program: pembiasaan teknologi dalam pembelajaran, penguatan kompetensi guru, pengembangan budaya digital di sekolah, serta penyusunan strategi digitalisasi berkelanjutan. Para alumni telah dibekali pelatihan intensif, mulai dari pedagogi hingga microteaching.

San Paris, alumni ITB yang akan bertugas di Halmahera Utara, mengaku termotivasi pulang kampung. Oki Ramadani, lulusan University of Sheffield yang ditempatkan di Merauke, optimistis teknologi bisa menumbuhkan kepercayaan diri siswa. Dengan pendekatan ini, pemerintah menargetkan kesenjangan pendidikan bisa ditekan, dan pembelajaran inklusif di era digital bukan lagi mimpi.(Infopublik/IS)