Gaya Hidup

‘Dapur Sumur Tutur’ Guncang Penonton dengan Isu Sandwich Generation

×

‘Dapur Sumur Tutur’ Guncang Penonton dengan Isu Sandwich Generation

Sebarkan artikel ini
Dari Konco Wingking ke Mitra Sejajar: Sebuah Monolog Imersif Menggali Luka Tiga Generasi.(Doc : Istimewa)
Dari Konco Wingking ke Mitra Sejajar: Sebuah Monolog Imersif Menggali Luka Tiga Generasi.(Doc : Istimewa)

SinarHarapan.id-Suara sendok menyentuh wajan, derik timba jatuh ke sumur, lalu bisik-bisik yang tak pernah selesai. Itulah yang akan ditemui penonton dalam pertunjukan teater monolog “Dapur Sumur Tutur” karya Putri Ayudya di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Sabtu sore.

Bukan sekadar akting. Pertunjukan ini mengemas kisah tiga generasi perempuan Jawa dalam satu keluarga: nenek, ibu, dan cucu. Lewat pendekatan imersif satu orang, Putri Ayudya—dua kali nominasi FFI dan peraih Piala Maya—menghidupkan pergulatan batin yang sering kali hanya mengendap di dapur dan tepi sumur.

Naskah ditulis oleh Nosa Nurmanda, disutradarai Ben Bening. Bersama Putri, mereka mengangkat kegelisahan generasi milenial perempuan Jawa. Bukan sekadar nostalgia, melainkan kritik halus terhadap generational trauma yang diwariskan tanpa sadar.

Pementasan berlangsung selama satu jam, mulai pukul 15.00 WIB, di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Lantai 8 West Mall Grand Indonesia (sebelah CGV Cinemas).

Karena tema yang diusung dekat dengan realitas masa kini: pergeseran peran perempuan dari “konco wingking” (teman di belakang) menuju mitra sejajar, serta tekanan sandwich generation—mereka yang harus menghidupi orang tua dan anak sekaligus. Melalui monolog yang intim, penonton diajak menyelami dialog lintas generasi yang jarang terjadi di meja makan.

Dari Konco Wingking ke Mitra Sejajar: Sebuah Monolog Imersif Menggali Luka Tiga Generasi.(Doc)
Dari Konco Wingking ke Mitra Sejajar: Sebuah Monolog Imersif Menggali Luka Tiga Generasi.(Doc)

Dengan format satu pemain, tanpa banyak properti, penekanan pada suara, gerak, dan hening. “Imersif” di sini berarti penonton bukan sekadar melihat, tetapi merasakan seolah-akan mereka duduk di kursi dapur yang sama.

Baca juga : Dari Novel ke Panggung, Musikal Perahu Kertas Hadirkan Panggung Berputar dan Visual Dinamis

Galeri Indonesia Kaya memilih karya ini sebagai bagian dari komitmen menghadirkan seni pertunjukan yang reflektif dan membumi. Bagi publik Jakarta, ini adalah kesempatan langka menyaksikan teater monolog bertutur tentang perempuan, tanah, dan waktu yang terus berputar tanpa henti.

Sebuah pengingat: terkadang, dapur dan sumur bukanlah penjara. Mereka adalah panggung. Dan perempuan Jawa akhirnya bersuara.