Network

Dari Duka Menjadi Cahaya Dunia

×

Dari Duka Menjadi Cahaya Dunia

Sebarkan artikel ini
Natalia Tjahja berikan kartu 100 CTFP ke Jessica Long ,juara dunia para swimmimg asal USA (Foto: MMLWF)

Sinar Harapan ID –  Kepergian seorang anak sering kali meninggalkan luka yang sulit dipulihkan. Namun bagi Natalia Tjahja, kehilangan putrinya, Maria Monique, justru menjadi titik balik perjalanan hidup yang mengubah duka menjadi misi kemanusiaan lintas negara. Kisah itu kini menginspirasi banyak orang melalui kerja sosial Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF), yayasan yang ia dirikan setelah kepergian sang buah hati pada 2006.

Natalia mengenang, putrinya meninggal pada usia tujuh tahun akibat infeksi bakteri paru-paru. Masa itu menjadi periode paling berat dalam hidupnya. Ia bahkan merasa rela kehilangan segalanya demi melihat putrinya tetap hidup. Namun setelah Maria Monique berpulang, Natalia justru menemukan pengalaman spiritual yang mengubah arah hidupnya.

Saat menaburkan abu sang anak di laut Ancol, Natalia mengaku merasakan kasih Tuhan yang sangat besar. Seratus hari setelah kepergian Maria Monique, ia merasa mendapat bisikan hati untuk berkeliling dunia mencari anak-anak yang menderita dan membawa kebahagiaan bagi mereka. Dari pengalaman itulah lahir Maria Monique Last Wish Foundation.

Awalnya Natalia merasa langkah tersebut mustahil. Biaya pengobatan anaknya di Singapura menguras seluruh tabungan keluarga hingga mencapai Rp1,4 miliar. Namun ia memilih percaya bahwa jika niat membantu sesama dilakukan dengan tulus, jalan akan selalu terbuka.

Misi utama yayasan itu sederhana namun mendalam, yakni menghadirkan sukacita bagi anak-anak sakit dan penyandang disabilitas. Salah satu penerima bantuan pertama adalah Damianus, anak dengan penyakit jantung sekaligus tuli, yang akhirnya memperoleh beasiswa pendidikan melalui jaringan relasi Natalia. Ada pula Risma yang mendapatkan kaki palsu, hingga Rendi Prawira yang bercita-cita bertemu Ariel NOAH dan akhirnya dapat mewujudkan impian tersebut.

Perjalanan kemanusiaan Natalia kemudian meluas ke berbagai negara. Liputan media internasional seperti CNN, Washington Post, hingga Xinhua membuat kiprah yayasannya dikenal luas. Dari Tiongkok, Afrika Selatan, Haiti, Vietnam, India, hingga berbagai negara lain, Natalia hadir membawa bantuan sekaligus harapan baru bagi anak-anak yang hidup dalam keterbatasan.

Di Johannesburg, Afrika Selatan, ia mendirikan Maria Monique Happy Room untuk anak-anak penderita HIV. Di Vietnam, yayasan membantu lebih dari seribu anak korban Agent Orange. Sementara di India, Natalia menemui anak-anak penderita kanker dan lupus yang sebagian hanya ingin merasa cantik untuk terakhir kalinya melalui sesi make over sederhana.

Tak hanya menghadirkan ruang bermain dan bantuan medis, MMLWF juga memiliki program kursi roda “My Life’s Light Wheelchair” yang telah mendistribusikan puluhan ribu kursi roda ke berbagai negara. Yayasan ini juga menjalankan program “The Wishes” yang membantu mewujudkan harapan terakhir anak-anak sakit.

Di balik seluruh aktivitas tersebut, Natalia mengandalkan dukungan banyak pihak. Mulai dari individu, perusahaan, maskapai penerbangan, hotel, hingga jaringan relawan muda internasional dari Indonesia, Taiwan, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Menariknya, perjalanan kemanusiaan Natalia juga membawanya memasuki dunia musik. Pada 2011, ia mulai menciptakan lagu meski tidak memiliki latar belakang membaca notasi musik. Bersama sejumlah musisi Indonesia seperti Dwiki Dharmawan, Purwacaraka, dan Tohpati, Natalia menghasilkan berbagai karya yang kemudian digunakan dalam ajang olahraga disabilitas internasional.

Salah satu pencapaian penting terjadi ketika lagu ciptaannya menjadi anthem resmi Asian Paralympic Committee dan ASEAN Para Sports Federation. Lagu tersebut kini diperdengarkan dalam berbagai ajang Asian Para Games dan ASEAN Para Games.

Dari dunia musik, Natalia lalu mengembangkan gerakan “100 Celebrities Talk For Athletes” atau 100 CTFP. Program ini menghubungkan tokoh-tokoh dunia dengan atlet paralimpiade melalui pesan-pesan inspiratif yang dicetak dalam kartu kecil dan dibagikan kepada atlet penyandang disabilitas.

Gerakan tersebut mendapat dukungan dari berbagai tokoh internasional, termasuk Presiden International Paralympic Committee Andrew Parsons, pejabat olahraga Asia, hingga tokoh budaya dan selebritas Indonesia.

Bagi Natalia, semua perjalanan ini berakar dari keyakinan sederhana bahwa hidup harus membawa dampak bagi sesama. Ia percaya kebahagiaan sejati hadir ketika seseorang dapat membantu mereka yang lemah dan membutuhkan.

“Orang yang paling berarti bagi saya adalah anak-anak penyandang disabilitas dan mereka yang sedang berjuang melawan penyakit,” ujarnya dalam wawancara tersebut. “Melayani mereka adalah tempat saya menemukan sukacita terbesar.”

Perjalanan Natalia Tjahja menunjukkan bahwa luka terdalam manusia kadang justru melahirkan cinta terbesar bagi dunia. Dari kehilangan seorang anak, lahirlah gerakan kemanusiaan yang kini menjangkau ribuan anak di berbagai penjuru bumi.