Oleh: Dr. H. A. Effendy Choirie, M.Ag., M.H.
SinarHarapan.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) merupakan momentum penting untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan perumusan agenda strategis organisasi dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di dunia, NU memiliki kekuatan yang luar biasa berupa jutaan jamaah, ribuan pesantren, puluhan ribu lembaga pendidikan, jaringan ulama yang luas, serta pengaruh sosial, budaya, dan keagamaan yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
Namun, tantangan yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Revolusi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perubahan geopolitik global, persaingan ekonomi internasional, perubahan iklim, disrupsi teknologi, serta persaingan sumber daya manusia menuntut lahirnya generasi baru yang tidak hanya kuat secara moral dan spiritual, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kepemimpinan.
Dalam konteks itulah, Muktamar ke-35 NU perlu melahirkan gagasan besar yang bersifat visioner dan berjangka panjang. Salah satu agenda strategis yang layak dipertimbangkan adalah pendirian Pesantren Unggulan NU di setiap provinsi di Indonesia sebagai investasi peradaban untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

NU dan Tradisi Besar Pesantren
Sejarah NU tidak dapat dipisahkan dari pesantren. Bahkan jauh sebelum NU didirikan pada tahun 1926, pesantren telah menjadi pusat pendidikan Islam, pusat dakwah, pusat pemberdayaan masyarakat, sekaligus benteng perjuangan melawan penjajahan.
Dari pesantren lahir ulama-ulama besar, pejuang kemerdekaan, pemimpin masyarakat, dan tokoh bangsa yang berjasa dalam menjaga agama sekaligus mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pesantren telah menjadi jantung kehidupan NU. Melalui pesantren, tradisi Ahlussunnah wal Jamaah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi tahlilan, istighasah, maulid, shalawatan, manaqiban, ziarah kubur, pengajian kitab kuning, dan berbagai amaliah keagamaan lainnya terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Karena itu, masa depan NU pada hakikatnya sangat bergantung pada kualitas pesantren yang dimilikinya.
Dari Kuantitas Menuju Kualitas
Tidak dapat dipungkiri bahwa NU memiliki basis jamaah yang sangat besar. Berbagai survei menunjukkan bahwa lebih dari separuh umat Islam Indonesia memiliki kedekatan kultural dengan NU. Ribuan pesantren NU juga tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Namun, kebesaran jumlah jamaah dan lembaga pendidikan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh lahirnya pusat-pusat pendidikan unggulan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Sebagian pesantren masih menghadapi berbagai keterbatasan, antara lain Kualitas sarana dan prasarana yang belum merata, Keterbatasan laboratorium sains dan teknologi, Rendahnya kapasitas penelitian dan publikasi ilmiah, Keterbatasan akses teknologi digital, Keterbatasan penguasaan bahasa asing, Lemahnya pendanaan jangka panjang.
Padahal, jika NU ingin memainkan peran yang lebih besar dalam membangun masa depan Indonesia, maka pembangunan sumber daya manusia unggul harus menjadi prioritas utama.
Sudah saatnya NU bergerak dari sekadar kebesaran jumlah menuju kebesaran kualitas.
Mengapa Harus Ada Pesantren Unggulan di Setiap Provinsi?
Indonesia saat ini memiliki 38 provinsi. Apabila di setiap provinsi berdiri minimal satu Pesantren Unggulan NU yang dirancang secara profesional, modern, dan tetap berakar kuat pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, maka akan lahir sedikitnya 38 pusat keunggulan (center of excellence) yang menjadi motor kemajuan umat dan bangsa.
Pesantren unggulan tersebut dapat berfungsi sebagai pusat kaderisasi ulama, pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pusat inovasi teknologi, pusat pemberdayaan ekonomi, serta pusat pembentukan karakter kebangsaan.
Keberadaan pesantren unggulan akan memperkuat posisi NU sebagai organisasi keagamaan yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.
Mencetak Ulama yang Menguasai Ilmu Keislaman dan Ilmu Modern
Ulama masa depan tidak cukup hanya memahami kitab kuning dan ilmu-ilmu syariah. Mereka juga harus memahami realitas dunia modern yang terus berubah.
Pesantren unggulan harus mampu melahirkan ulama yang menguasai Al-Qur’an dan Hadist, Fikih dan Ushul Fikih, Tasawuf dan Akhlak, Sejarah Peradaban Islam, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, Teknologi informasi dan kecerdasan buatan, Ekonomi syariah dan ekonomi digital, Lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, Politik dan hubungan internasional.
Dengan demikian, ulama NU akan mampu memberikan jawaban keagamaan yang relevan terhadap berbagai persoalan kontemporer.
Menyiapkan Pemimpin Indonesia Emas 2045
Tahun 2045 Indonesia akan memperingati satu abad kemerdekaan. Pemerintah mencanangkan visi Indonesia Emas 2045 sebagai cita-cita untuk menjadikan Indonesia negara maju, berdaya saing tinggi, dan sejahtera.
Pertanyaannya, siapa yang akan memimpin Indonesia pada saat itu?
Jawabannya tentu adalah generasi muda yang saat ini sedang belajar di sekolah, madrasah, dan pesantren.
Karena itu, NU harus menyiapkan kader-kader terbaiknya sejak sekarang.
Pesantren unggulan harus menjadi tempat lahirnya ulama, akademisi, dokter, insinyur, ahli teknologi. pengusaha, diplomat, birokrat, politisi, dan aktivis sosial.
Mereka harus memiliki karakter santri, wawasan kebangsaan, serta komitmen untuk memperjuangkan kemaslahatan rakyat.
Pesantren sebagai Pusat Kemandirian Ekonomi
Pesantren unggulan juga harus menjadi pusat pengembangan ekonomi umat.
Selain pendidikan keagamaan dan akademik, pesantren perlu mengembangkan Pertanian modern, Peternakan, Perikanan, Industri halal, Koperasi, Baitul Maal wat Tamwil (BMT), Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Inkubator bisnis berbasis teknologi.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya mencetak lulusan yang mencari pekerjaan, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja.
Memperkuat Komitmen Kebangsaan
Sejak lahirnya Republik Indonesia, NU selalu berada di garis depan dalam menjaga keutuhan bangsa.
Resolusi Jihad tahun 1945, penerimaan Pancasila sebagai dasar negara, serta berbagai kontribusi NU dalam menjaga persatuan nasional merupakan bukti nyata komitmen kebangsaan kaum Nahdliyin.
Karena itu, pesantren unggulan NU harus menjadi pusat pendidikan kebangsaan yang mengajarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Wawasan Nusantara, Demokrasi, Toleransi, Persatuan nasional.
Generasi santri harus tumbuh sebagai Muslim yang taat sekaligus warga negara yang cinta tanah air.
Gerakan Wakaf Pendidikan dan Kemandirian Pembiayaan
Pembangunan pesantren unggulan tentu membutuhkan biaya yang besar. Namun, dengan jumlah warga NU yang sangat banyak, sesungguhnya hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.
NU perlu membangun gerakan nasional wakaf pendidikan yang melibatkan Warga Nahdliyin, Alumni pesantren. Pengusaha NU, Pemerintah pusat, Pemerintah daerah, BUMN, Filantropi Islam, Lembaga zakat dan wakaf.
Melalui gerakan wakaf produktif, pembangunan pesantren unggulan dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa terlalu bergantung pada bantuan pihak lain.
Agenda Besar NU Abad Kedua
Memasuki abad kedua, NU membutuhkan agenda besar yang melampaui kepentingan jangka pendek dan pergantian kepemimpinan organisasi.
Muktamar memang penting untuk memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Namun yang jauh lebih penting adalah merumuskan arah perjalanan NU untuk 25 hingga 50 tahun ke depan.
Dalam perspektif tersebut, pembangunan Pesantren Unggulan NU di setiap provinsi merupakan salah satu proyek peradaban yang sangat strategis.
Gedung organisasi yang megah mungkin akan dikenang beberapa tahun. Tetapi lembaga pendidikan yang melahirkan generasi unggul akan dikenang sepanjang zaman.
Penutup
Menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sudah saatnya NU memikirkan langkah-langkah besar yang dapat menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Salah satu langkah strategis tersebut adalah mendirikan Pesantren Unggulan NU di setiap provinsi di Indonesia.
Melalui pesantren unggulan, NU dapat melahirkan ulama yang alim dan moderat, intelektual yang cerdas, profesional yang kompeten, pengusaha yang mandiri, serta pemimpin bangsa yang berintegritas. Dari pesantren unggulan pula akan lahir generasi Nahdliyin yang mampu menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Apabila gagasan ini diwujudkan secara bertahap dan berkesinambungan, maka NU tidak hanya akan tetap menjadi organisasi Islam terbesar, tetapi juga menjadi pelopor lahirnya generasi emas yang akan membawa Indonesia menuju cita-cita kemerdekaan: masyarakat yang adil, makmur, bermartabat, dan sejahtera.
NU besar karena pesantren. Dan masa depan Indonesia dapat menjadi lebih besar karena pesantren-pesantren unggulan yang dibangun NU hari ini. Inilah saatnya NU berinvestasi untuk peradaban dan menyiapkan generasi pemimpin Indonesia Emas 2045.***
Penulis adalah Ketua Umum DNIKS 2024–2029, Anggota DPR/MPR RI 1999–2013, Kader Nahdlatul Ulama











