Kesra

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan

×

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan

Sebarkan artikel ini

Seruan itu mengemuka dalam puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI) 2026 yang berlangsung pada Minggu (24/5/2026).

Sinar Harapan ID – Suasana Masjid Cut Nyak Dien pada Minggu pagi terasa berbeda. Di tengah meningkatnya berbagai bentuk kekerasan di ruang domestik, pendidikan, hingga ruang publik, suara lantang datang dari para ulama perempuan Indonesia. Dari Masjid Cut Nyak Dien, mereka menyerukan satu pesan besar untuk bangsa: Indonesia tanpa kekerasan.

Dari ruang utama masjid hingga halaman luar, ribuan orang berkumpul membawa semangat yang sama: membangun Indonesia yang lebih manusiawi, adil, dan bebas dari kekerasan.

Hari itu menjadi puncak penyelenggaraan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI) 2026. Sekitar seribu peserta hadir secara luring dan daring dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari jaringan internasional. Mereka datang bukan hanya untuk menghadiri sebuah seremoni, melainkan merawat ingatan sejarah tentang kiprah panjang ulama perempuan dalam menjaga kemanusiaan.

Selama Mei 2026, gerakan BKUPI menghadirkan 24 rangkaian kegiatan yang melibatkan pesantren, perguruan tinggi, komunitas masyarakat sipil, hingga media partner. Kegiatan itu menjadi penanda bahwa Serakan ulama perempuan bukan lagi suara kecil di pinggir sejarah, melainkan arus besar yang terus tumbuh dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Salah satu agenda yang paling menyentuh adalah pembacaan 31 manaqib tokoh ulama perempuan Indonesia selama 20 hari berturut-turut melalui kanal daring. Kisah-kisah perjuangan para ulama perempuan itu membuka kembali lembar sejarah yang selama ini jarang ditulis dalam arus utama.

Gerakan spiritual juga terasa kuat melalui khataman Al-Qur’an yang dilakukan selama lima hari menjelang acara puncak. Dari ratusan pesantren, komunitas, dan perguruan tinggi, terkumpul 1.047 khataman Al-Qur’an sebagai doa bersama untuk masa depan bangsa yang lebih damai.

Ketua Panitia BKUPI, Pera Sopariyanti, menegaskan bahwa gerakan ulama perempuan lahir dari kekuatan kolektif masyarakat sipil dan jaringan keulamaan perempuan di Indonesia.

“Gerakan Ulama Perempuan ini adalah gerakan kultural, gerakan spiritual, gerakan sosial, dan gerakan intelektual,” ujarnya.

Menurutnya, BKUPI bukan sekadar agenda tahunan. Gerakan ini merupakan upaya menghidupkan kembali kesadaran kolektif bangsa terhadap kontribusi ulama perempuan dalam perjuangan melawan ketidakadilan, kekerasan, dan penindasan sejak masa sebelum kemerdekaan hingga hari ini.

Momentum penting lainnya adalah peluncuran Atlas Ulama Perempuan Indonesia oleh Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah. Atlas tersebut memetakan jejak pengabdian ulama perempuan dari berbagai daerah, mulai dari lingkungan pesantren, kampus, komunitas, hingga ruang-ruang pengabdian sosial masyarakat.

“Atlas KUPI bukan sekadar daftar nama. Atlas KUPI adalah peta jejak perjuangan ulama perempuan,” kata Nyai Iklilah.

Dokumentasi itu menjadi langkah penting untuk memastikan sejarah tidak lagi melupakan kontribusi perempuan dalam tradisi keilmuan Islam, dakwah, dan perjuangan sosial di Indonesia. Di tengah derasnya perubahan zaman, atlas tersebut juga menjadi warisan pengetahuan bagi generasi muda.

Selain atlas, diluncurkan pula Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia oleh Faqihuddin Abdul Kodir. Buku itu memuat kisah 31 tokoh ulama perempuan Indonesia yang selama ini jarang mendapatkan ruang dalam penulisan sejarah keislaman nasional.

“Ini ikhtiar kami untuk memulai mencatat, menghormati, meriwayatkan, mentransmisikan jasa-jasa ulama perempuan,” tutur Kyai Faqihuddin.

Peluncuran buku dan atlas tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan ulama perempuan hari ini tidak hanya bergerak di ruang dakwah, tetapi juga di ruang pengetahuan dan dokumentasi sejarah. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai seluruh pejuangnya, termasuk mereka yang selama ini bekerja dalam sunyi.

Pidato paling menggugah datang dari Ketua Majelis Musyawarah KUPI, Badriyah Fayumi. Dalam Pidato Kebangkitan Ulama Perempuan, ia menyoroti maraknya kekerasan yang masih terjadi di berbagai ruang kehidupan: rumah tangga, lembaga pendidikan, ruang publik, hingga kekerasan struktural terhadap masyarakat dan lingkungan.

“Ulama perempuan Indonesia mengutuk keras semua bentuk kekerasan fisik dan seksual,” tegas Nyai Badriyah.

Ia mengajak masyarakat membangun budaya anti-kekerasan melalui kesadaran kolektif untuk tidak menjadi pelaku, korban, ataupun pihak yang membiarkan kekerasan terus berlangsung.

Seruan itu kemudian dipertegas melalui pembacaan “Risalah Cut Nyak Dien Menteng”, sebuah pernyataan sikap bersama yang menegaskan komitmen “Indonesia tanpa kekerasan dari ruang domestik hingga negara.”

Di tengah meningkatnya tantangan sosial, polarisasi, dan kekerasan berbasis gender, pesan yang dibawa para ulama perempuan ini terasa semakin relevan. Mereka tidak hanya berbicara tentang agama, tetapi juga tentang keberanian menjaga martabat manusia, merawat kehidupan, dan membangun masa depan bangsa yang berkeadaban.

BKUPI 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan kebangkitan ulama perempuan. Ia menjelma menjadi ruang harapan bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan moral untuk melawan kekerasan, merawat kemanusiaan, dan menyalakan masa depan yang lebih damai bagi generasi mendatang.