SinarHarapan.id – Jauh dari Tanah Air, ribuan mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Timur Tengah sesungguhnya tengah mengemban peran yang lebih besar daripada sekadar mengejar gelar akademik. Mereka adalah jembatan peradaban, penjaga tradisi intelektual Islam, sekaligus calon pemimpin yang diharapkan mampu membawa Indonesia berkontribusi bagi dunia.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Muhammad Anis Matta, saat membuka secara resmi Simposium Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kawasan Timur Tengah dan Afrika Tahun 2026 di Muscat, Kesultanan Oman, Rabu (22/7/2026).
Mengangkat tema “Peran dan Pengaruh Pelajar Indonesia di Timur Tengah dan Afrika dalam Transformasi Global dan Peradaban Islam”, simposium tersebut mempertemukan mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu di Oman, Mesir, Yaman, Maroko, Tunisia, Yordania, Libya, hingga Pakistan.
Dalam pidato kuncinya, Anis Matta mengingatkan bahwa mahasiswa Indonesia di Timur Tengah merupakan bagian dari mata rantai panjang tradisi keilmuan yang telah memberi warna bagi perjalanan bangsa sejak masa awal kemerdekaan. Dari kawasan inilah banyak lahir ulama, cendekiawan, pemikir, dan tokoh bangsa yang membawa gagasan perubahan bagi Indonesia.
Di tengah perubahan geopolitik dunia yang berlangsung begitu cepat, menurutnya, tradisi tersebut harus terus dijaga dan diperkuat. Mahasiswa Indonesia didorong tidak hanya menjadi pencari ilmu, tetapi juga mampu melahirkan gagasan yang relevan bagi pembangunan nasional sekaligus berkontribusi menciptakan tata dunia yang lebih damai, adil, dan inklusif.
Saat ini, sekitar 27 ribu mahasiswa Indonesia sedang menempuh pendidikan di berbagai negara Timur Tengah. Jumlah tersebut menjadi modal intelektual yang besar bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi, memperluas jejaring global, dan menghadirkan perspektif keislaman yang moderat di tengah berbagai tantangan dunia.
Namun kunjungan kerja Wamenlu ke Muscat tidak hanya berfokus pada dunia pendidikan. Di sela-sela kegiatan tersebut, Anis Matta juga menggelar pertemuan dengan Utusan Khusus Sultan Oman untuk Urusan Luar Negeri, Sheikh Abdulaziz bin Abdullah bin Zaher Al-Hinai, guna membahas perkembangan hubungan bilateral kedua negara.
Pertemuan berlangsung dalam suasana yang hangat dan konstruktif. Kedua pihak meninjau pelaksanaan berbagai kerja sama yang telah disepakati sekaligus membahas peluang memperluas kemitraan di berbagai sektor strategis.
Selain itu, Indonesia dan Oman bertukar pandangan mengenai dinamika keamanan di Timur Tengah, termasuk dampaknya terhadap stabilitas kawasan, keamanan jalur pelayaran internasional, ketahanan energi global, serta perkembangan situasi di Yaman dan Palestina.
Hubungan ekonomi kedua negara pun menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, nilai perdagangan Indonesia dan Oman mencapai 954,2 juta dolar AS, meningkat sekitar 77 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja ekspor Indonesia ke Oman juga melonjak hampir 97 persen, dari 176,6 juta dolar AS menjadi 347,7 juta dolar AS pada periode yang sama. Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa hubungan kedua negara tidak hanya semakin erat secara diplomatik, tetapi juga semakin produktif dalam bidang ekonomi.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi kawasan Timur Tengah, Indonesia dan Oman menegaskan kesamaan pandangan bahwa dialog dan diplomasi tetap menjadi jalan utama untuk meredakan ketegangan serta mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.
Melalui kunjungan ini, Indonesia kembali menunjukkan bahwa diplomasi tidak hanya dibangun melalui pertemuan antarpemerintah, tetapi juga melalui investasi pada generasi muda. Dari ruang-ruang kuliah di Timur Tengah, lahir harapan agar mahasiswa Indonesia kelak menjadi duta bangsa yang membawa ilmu, nilai kemanusiaan, dan semangat perdamaian ke panggung dunia.











