Internasional

Indonesia Pimpin ASEAN Perkuat Ketangguhan Bencana Berkelanjutan

×

Indonesia Pimpin ASEAN Perkuat Ketangguhan Bencana Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

Sebagai Ketua ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) 2026, Indonesia mengajak negara-negara ASEAN dan mitra internasional memperkuat kolaborasi, sistem peringatan dini, serta ketangguhan berkelanjutan untuk menghadapi bencana dan perubahan iklim.

Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Ina Krisnamurthi dan Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Rustian dalam Pertemuan ke-48 ACDM and Related Meetings di Bandung pada 28–29 Juli 2026. (Foto: Kemlu RI)

SinarHarapan.id – Indonesia mendorong perubahan pendekatan dalam penanggulangan bencana di kawasan Asia Tenggara dari sekadar pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction) menuju pembangunan ketangguhan berkelanjutan (sustainable resilience). Langkah ini menjadi fokus Indonesia sebagai Ketua ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) 2026 guna memperkuat kesiapsiagaan kawasan dalam menghadapi bencana dan dampak perubahan iklim.

Komitmen tersebut disampaikan dalam Pertemuan ke-48 ACDM and Related Meetings yang berlangsung di Bandung pada 28–29 Juli 2026 dengan mengusung tema “From ASEAN to Global: Strengthening Community Preparedness and Leadership for Sustainable Resilience.”

Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Rustian, saat membuka pertemuan menegaskan bahwa implementasi ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) Work Programme 2026–2030 harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di kawasan.

Menurutnya, ketangguhan tidak lagi dapat dipandang sebagai isu sektoral semata, melainkan harus menjadi agenda bersama yang melibatkan seluruh sektor serta tiga pilar Komunitas ASEAN.

“Sustainable Resilience harus menjadi kerangka kerja yang praktis dan lintas sektor bagi aksi ASEAN. Sejalan dengan ASEAN Leaders’ Declaration on Sustainable Resilience 2023, ketangguhan harus berpusat pada masyarakat dan terintegrasi dalam seluruh sektor serta tiga Pilar Komunitas ASEAN,” ujar Rustian.

Dalam kepemimpinannya di ACDM, Indonesia mendorong penguatan koordinasi regional, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana, pemanfaatan data dan teknologi, pengembangan sistem peringatan dini, serta investasi berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas masyarakat di tingkat lokal.

Indonesia juga menekankan pentingnya Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) sebagai bagian dari aksi antisipatif, sehingga informasi mengenai potensi risiko dapat segera diterjemahkan menjadi langkah nyata sebelum dampak bencana semakin meluas. Pengalaman Indonesia di bidang ini diharapkan dapat menjadi praktik baik bagi negara-negara ASEAN dalam mendukung implementasi ASEAN Socio-Cultural Community Strategic Plan of the ASEAN Community Vision 2045.

Pada sesi terbuka pertemuan, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Ina Krisnamurthi, menegaskan pentingnya memperkuat kemitraan ASEAN dengan negara-negara mitra dan organisasi internasional.

Ia menilai kerja sama tersebut tidak hanya diperlukan ketika bencana terjadi, tetapi juga sebagai upaya membangun sistem perlindungan bersama yang mampu memperkuat ketangguhan kawasan dalam jangka panjang.

Sesi terbuka ACDM dihadiri sembilan negara mitra ASEAN, yakni Australia, Kanada, Uni Eropa, Selandia Baru, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Turki, dan Prancis. Pertemuan juga diikuti lima organisasi internasional, yaitu United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA), United Nations Development Programme (UNDP), International Organization for Migration (IOM), International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), serta Asian Disaster Preparedness Center (ADPC).

Dalam forum tersebut, negara-negara ASEAN mendorong peningkatan komitmen para mitra untuk memperkuat kerja sama di bidang peningkatan kapasitas, pengembangan platform pembelajaran dan pertukaran pengetahuan, penguatan kelembagaan AHA Centre, serta berbagai bentuk kerja sama teknis guna mendukung pelaksanaan AADMER Work Programme 2026–2030.

Indonesia juga memanfaatkan momentum Keketuaan ACDM 2026 untuk memperkuat kapasitas antisipasi dan sistem peringatan dini, menempatkan masyarakat lokal sebagai prioritas utama, serta memperkuat kontribusi ASEAN dalam penyusunan norma dan arsitektur ketangguhan global pasca target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Pertemuan ACDM ke-48 tahun ini sekaligus menandai satu dekade Deklarasi One ASEAN, One Response. Agenda berikutnya adalah Pertemuan ACDM ke-49 yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 dan akan diselenggarakan bersamaan dengan Pertemuan Menteri ASEAN Bidang Penanggulangan Bencana (AMMDM) ke-14.

(Sumber: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia)