SinarHarapan.id – Ketika sebagian Jakarta mulai beristirahat, Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, justru memperlihatkan denyut kehidupan yang berbeda. Cahaya lampu menerangi lapak sayuran, tumpukan bahan pangan, dan wajah-wajah pedagang yang sibuk melayani pembeli. Di antara lalu-lalang kendaraan dan riuh transaksi, setiap sudut menawarkan cerita tentang perjuangan mencari nafkah. Inilah momen ketika pasar bukan sekadar tempat jual beli, melainkan panggung kehidupan yang terus bergerak hingga dini hari.
Dari lorong-lorong Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, orang-orang bergerak nyaris tanpa jeda. Ketika sebagian Jakarta terlelap, pasar ini justru berdenyut kencang. Malam menjadi panggung bagi para pencari nafkah, dan setiap sudutnya menyimpan cerita yang menunggu untuk diabadikan.
Bagi pedagang, malam menjadi bagian penting dari putaran ekonomi. Sayuran, ikan, ayam, dan berbagai kebutuhan pangan berpindah tangan dari pemasok kepada pedagang eceran maupun pelaku usaha kuliner. Keramaian itu menghadirkan banyak momen yang menarik untuk diabadikan. Tangan pedagang yang memilah ikan, pembeli yang menawar harga, hingga sorot wajah di bawah cahaya lampu menjadi potongan cerita kehidupan yang kerap luput dari perhatian.
Di tengah keterbatasan cahaya pasar malam, Infinix Note 60 Pro menawarkan kamera utama 50 MP dengan bukaan lensa f/1.59 dan dukungan Optical Image Stabilization (OIS). Bukaan lensa yang lebar membantu menangkap cahaya, sementara OIS menjaga hasil foto tetap stabil dengan mengurangi guncangan tangan. Kombinasi ini mendukung upaya mengabadikan kesibukan pedagang, interaksi pembeli, hingga detail lapak di bawah sorot lampu pasar tanpa harus selalu menggunakan tripod.
Untuk menangkap suasana yang lebih luas, kamera ultrawide 8 MP dapat dimanfaatkan untuk memotret deretan lapak dan lorong yang dipenuhi aktivitas. Sementara itu, kamera utama lebih sesuai untuk merekam ekspresi pedagang, detail barang dagangan, dan interaksi antara penjual dengan pembeli. Mode malam juga dapat membantu pengambilan gambar dalam pencahayaan terbatas. Namun, OIS tidak membekukan gerakan subjek.
Kemampuan kamera tersebut memberi ruang untuk mengeksplorasi cerita visual dari sudut-sudut pasar. Cahaya lampu yang jatuh pada wajah pedagang, pantulan pada permukaan barang dagangan, atau kontras antara lorong terang dan bagian pasar yang gelap dapat membentuk komposisi yang kuat. Kamera utama 50 MP juga menyediakan resolusi yang memadai untuk dokumentasi dan publikasi digital. Meski demikian, kualitas akhir tetap bergantung pada pencahayaan, jarak pemotretan, kestabilan tangan, serta pengolahan gambar.
Ketika pagi mulai mendekat, hasil perdagangan malam itu akan bergerak menuju warung makan, lapak eceran, dan meja makan keluarga. Pasar Kebayoran Lama memperlihatkan bahwa roda ekonomi kota tidak hanya berputar pada jam kerja, tetapi juga melalui kerja orang-orang yang tetap sibuk ketika sebagian besar warga beristirahat. Foto & Teks Ruht Semiono















