Nasional

Memoar RI-002 Menjaga Memori Kolektif Pahlawan yang Luput Dilupakan

×

Memoar RI-002 Menjaga Memori Kolektif Pahlawan yang Luput Dilupakan

Sebarkan artikel ini
Diskusi @america Angkat Kisah Penerbang RI-002 Menjelang Hari Pahlawan.(Doc : Red)
Diskusi @america Angkat Kisah Penerbang RI-002 Menjelang Hari Pahlawan.(Doc : Red)

SinarHarapan.id-Diskusi di @america Jakarta, Kamis, 5 November 2026, mengangkat kisah penerbang Indonesia dan Amerika menjelang Hari Pahlawan. Petit Muharto Kartodirdjo dan Bobby Earl Freeberg bersahabat dalam perjuangan kemerdekaan. Pesawat RI-002 menjadi saksi keberanian mereka di udara.

Diskusi bertajuk Lost Flight RI-002 berangkat dari memoar Petit Muharto Kartodirdjo. Buku RI-002: Flying for Our Freedom mencatat misi berisiko dan persahabatan lintas negara. Saat Republik terhimpit ofensif militer Belanda, pesawat menjadi penghubung penting bagi wilayah dan dunia luar itu.

Pada 17 Oktober 1947, Freeberg menerbangkan RI-002 dalam operasi penerjunan pasukan pertama Angkatan Udara Republik Indonesia di Kalimantan. Setahun kemudian, 1 Oktober 1948, RI-002 hilang di Sumatra bersama Freeberg dan sejumlah personel Indonesia. Petit tidak ikut dalam penerbangan terakhir itu.

Selama puluhan tahun Petit mencari jawaban atas hilangnya sahabatnya. Puing pesawat ditemukan beberapa dekade kemudian, tetapi penyebab pasti RI-002 masih menyisakan pertanyaan. Diskusi menghadirkan Lala Karmela, Chappy Hakim, dan Asep Kambali untuk membaca langsung kisah itu dari tiga perspektif berbeda.

Lala Karmela, cucu Petit, mengaku membaca memoar kakeknya mengubah cara pandangnya terhadap sejarah. Peristiwa yang dulu hanya dikenal dari pelajaran sekolah kini bermakna lewat kisah pribadi. Sejarah bukan hanya soal mengetahui apa yang terjadi, tetapi memahami mengapa hal itu terjadi.

Dua Penerbang Petit Muharto dan Freeberg di Balik RI-002.(Doc : Red)
Dua Penerbang Petit Muharto dan Freeberg di Balik RI-002.(Doc : Red)

Chappy Hakim, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara penerbang C-47 Dakota, menekankan nilai buku tidak terbatas pada sejarah penerbangan. Kisah Petit dan Freeberg menggambarkan hubungan antarmanusia yang tidak mengenal ras maupun bangsa. Ia menyoroti pentingnya dokumentasi sejarah dan pelestarian arsip.

Chappy menegaskan kecelakaan pesawat harus diinvestigasi institusi terkait sebelum disimpulkan. Banyak orang menyebut RI-002 ditembak atau jatuh, tetapi tanpa bukti. Ia menyebut tiga hal penting: sejarah penerbangan awal kemerdekaan, riwayat persahabatan, dan hilangnya RI-002 yang kini masih menunggu jawaban pasti.

Asep Kambali menekankan pentingnya mengenang individu yang kontribusinya belum mendapat tempat dalam narasi sejarah. Ia menyebut kemerdekaan tidak turun dari langit, tetapi diperjuangkan di atas langit melalui Freeberg dan Petit. Generasi muda harus paham sejarah agar cita-cita pendiri bangsa terjaga.

Asep menilai kisah ini layak difilmkan karena mengandung romantika, persahabatan, dan hubungan dua negara. Petit dan Freeberg terbang tanpa GPS dan black box. Ia mengajak memaafkan kesalahan masa lalu karena Bung Karno telah memaafkan dan bangsa ini sudah bebas kini.

Tamalia Alisjahbana berharap pemerintah Indonesia memberi medali kepada Petit dan Freeberg. Eko, putra Petit, berjuang 26 tahun menerbitkan naskah ayahnya hingga terbit 2026. Menjelang Hari Pahlawan, kisah RI-002 kini kembali mengajak merenungkan kepahlawanan yang luput dari perhatian seluruh bangsa Indonesia.