SinarHarapan.id-Langkah Indonesia menuju kemandirian energi dimulai dari satu sel baterai. Ambisi ini menuntut kolaborasi lintas sektor dan penguasaan teknologi. Maka, National Battery Research Institute (NBRI) bersama Pamerindo dan Id Battery menggelar International Battery Summit 2026 di JIEXPO pada 26-28 Agustus nanti.
Forum ini bukan sekadar konferensi biasa, melainkan panggung strategis untuk menghubungkan pemerintah, pelaku industri, dan akademisi. Mereka datang dari lebih dari 35 negara dengan satu tujuan memperkuat ekosistem. Tema yang diangkat adalah memberdayakan transisi energi melalui teknologi dan penyimpanan.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama rantai pasok baterai global. Mulai dari melimpahnya mineral, pertumbuhan manufaktur, hingga investasi yang terus mengalir deras. Namun, kekayaan sumber daya saja tidak cukup tanpa didukung riset dan sumber daya manusia.
Profesor Evvy Kartini dari BRIN menegaskan bahwa riset dan inovasi adalah fondasi utama membangun ekosistem kompetitif. “Kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan lembaga riset harus terus dipupuk,” ujarnya. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi pemasok bahan mentah selamanya.

Belajar dari negara maju, penguasaan teknologi menjadi kunci untuk melompat dari sekadar pemasok menjadi pusat industri. IBS 2026 menjadi wadah belajar tersebut melalui pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik. Ini adalah langkah konkret memutus rantai ketergantungan teknologi asing.
Niko Chandra dari Id Battery menilai momentum ini sangat kuat dan tidak boleh disia-siakan. “Kita perlu membangun keterhubungan yang kuat antara seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya. IBS diharapkan menjadi katalis percepatan pertumbuhan industri yang berkelanjutan dan terintegrasi.
Sementara itu, Max Bruinier dari Pamerindo melihat pentingnya platform yang mempertemukan pembuat kebijakan dengan investor. Kolaborasi ini menjadi jembatan antara kebutuhan industri dan riset akademisi. Dari sinilah lahir inovasi yang aplikatif untuk menjawab tantangan lapangan.
Muhammad Firmansyah menambahkan, kebutuhan baterai ke depan tak hanya untuk kendaraan listrik. Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya sebesar 100 GW membutuhkan sistem penyimpanan energi (BESS) yang andal. BESS adalah kunci mengatasi intermitensi energi surya agar sistem tetap stabil.
Kolaborasi bisnis baru juga menjadi sasaran utama IBS 2026 menurut Reynaldi Istanto. Indonesia didorong menjadi pusat investasi dan teknologi, bukan hanya bagian dari rantai pasok. Diskusi akan membahas teknologi manufaktur, daur ulang, hingga ekonomi sirkular secara mendalam.
Rangkaian acara menghadirkan sesi keynote dan panel diskusi serta pameran teknologi terkini. NBRI berharap ini menjadi langkah jangka panjang transisi energi Indonesia. Dari forum ini, diharapkan lahir kolaborasi konkret yang memperkuat posisi Indonesia di kancah global.





