Nasional

Putera Sampoerna Foundation: 25 Tahun, Teknologi dan Guru Bergerak Bersama

×

Putera Sampoerna Foundation: 25 Tahun, Teknologi dan Guru Bergerak Bersama

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Sebanyak 83,80 persen pelajar Indonesia telah menggunakan internet dan 85,78 persen menggunakan telepon seluler dalam aktivitas sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 itu menunjukkan bahwa teknologi digital kini semakin dekat dengan proses belajar generasi muda.

Namun, Kepala Seksi Pendidik Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Juwarto, menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak akan menggantikan peran guru.

“Saat ini, kita dihadapkan dengan satu hal yang luar biasa, yaitu AI. Meski dari segi pengetahuan sudah digantikan oleh AI, guru tetap menjadi kunci utama,” ujar Juwarto dalam sambutannya di PSF Education Summit, Selasa (20/5/2025).

Putera Sampoerna Foundation (PSF) menggelar workshop bertajuk “Kolaborasi dan Visualisasi Pembelajaran di Era Digital”. Kegiatan ini menjadi rangkaian pembuka PSF Education Summit dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional sekaligus 25 tahun perjalanan PSF berkontribusi untuk pendidikan Indonesia.

Workshop dipandu Putri Fitria Joko, salah satu fasilitator PSF yang berpengalaman mendampingi sekolah binaan dari Kutai Barat hingga Manggarai Barat. Acara diikuti puluhan guru dari berbagai daerah.

Kegiatan berlangsung pada 20 Mei 2025 di Jakarta. PSF Education Summit mengusung tema “Transforming Lives, Shaping the Future”.

Juliana, Head of Program & GuruBinar PSF-SDO, menjelaskan bahwa tantangan utama pendidikan saat ini bukan lagi sekadar akses teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkannya secara efektif untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, kolaboratif, dan berdampak.

“Pendekatan kami dimulai dari membangun kesadaran guru sebagai agen perubahan. Saat pembelajaran berpusat pada siswa, siswa akan tumbuh menjadi pembelajar yang mandiri, kritis, dan kolaboratif,” jelas Juliana.

Workshop mengangkat dua pendekatan utama: cooperative learning dan graphic organizer yang diintegrasikan dengan platform kolaborasi digital. Para guru mempraktikkan langsung metode seperti Think Pair Share, Round Robin Brainstorming, hingga Fishbowl.

Baca juga : Dopamin dan Layar: Sampoerna University Bongkar Krisis Mental Generasi Digital

Selain itu, peserta diperkenalkan pada graphic organizer digital, mulai dari Y-Chart, Diagram 4 Kotak, hingga Fishbone. Alat bantu visualisasi ini memudahkan siswa mengorganisasi informasi dan mengembangkan pemikiran kritis.

Salah satu peserta, Rauda Alia (Guru SD Insan Kamil Bogor), mengaku mendapatkan banyak inspirasi baru.

“Workshop ini sangat membuka wawasan saya tentang pentingnya menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, relevan, dan berpihak pada kebutuhan anak-anak di era sekarang. Materi dan sharing yang disampaikan memberikan semangat baru bagi saya,” ungkap Rauda.

Ia berharap penerapan collaborative learning, penguatan critical thinking siswa, serta penggunaan media pembelajaran yang dekat dengan keseharian anak dapat segera diterapkan di kelas.

Selama 25 tahun, PSF meyakini investasi pada pendidik merupakan langkah penting untuk menciptakan perubahan pendidikan berkelanjutan. Program pengembangan guru PSF telah menjangkau lebih dari 34 provinsi di Indonesia, dari perkotaan hingga daerah dengan keterbatasan akses, guna mendorong pengalaman belajar yang lebih inklusif, relevan, dan berdampak bagi generasi masa depan.