Sinar Harapan.ID – Kepedulian terhadap kehidupan keluarga di pelosok desa melahirkan sebuah gerakan kemanusiaan yang kini meluas hingga lintas negara. Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF) memperkenalkan program baru bertajuk “Happiness Golden Hope Account” (HGHA), yang menyasar perempuan berkebutuhan khusus sebagai penopang utama keluarga.
Program ini menjadi wujud nyata dari upaya menghadirkan harapan jangka panjang bagi kelompok rentan yang kerap terpinggirkan. Melalui pendekatan langsung, bantuan tidak hanya diberikan dalam bentuk kebutuhan dasar, tetapi juga melalui skema tabungan emas yang dirancang untuk keberlanjutan ekonomi keluarga.
Peluncuran HGHA tidak terlepas dari keberhasilan penyelenggaraan program global 100 CTFP (100 Celebrities Talk for Paralympic) Card of Honor 2026. Dalam momentum tersebut, Majid Rashed, Presiden Asian Paralympic Committee, menyampaikan pesan yang menggugah kesadaran tentang pentingnya perdamaian dunia melalui gerakan solidaritas.
Dukungan terhadap inisiatif ini datang dari berbagai lembaga internasional, di antaranya International Paralympic Committee, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, ASEAN Para Sports Federation, National Paralympic Council Singapore, Komite Olahraga Indonesia, serta Perkumpulan Insan Maritim Andalan Indonesia (PIMA).

Menjawab Kebutuhan Nyata
Sebagai program charity ke-19, HGHA sekaligus menjadi langkah awal gerakan 100 CTFP Indonesia. Fokusnya jelas: membantu perempuan berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu yang harus memikul tanggung jawab ekonomi.
Di berbagai daerah, realitas menunjukkan bahwa banyak keluarga menghadapi situasi sulit ketika sosok ibu, yang juga berkebutuhan khusus, tidak lagi mampu menjalankan peran sebagai tulang punggung keluarga. Kondisi ini membuat anak-anak harus bertahan dalam keterbatasan yang berat.
Pendiri MMLWF, Natalia Tjahja, menegaskan bahwa program ini dirancang berdasarkan kebutuhan paling mendesak di lapangan. Selain bantuan langsung, para penerima manfaat juga diajak membangun masa depan melalui tabungan emas sebagai simbol harapan jangka panjang.
Dari Bali ke Berbagai Penjuru
Program HGHA pertama kali dijalankan di Bali dengan empat perempuan berkebutuhan khusus sebagai penerima manfaat awal. Seiring waktu, jangkauan program meluas ke berbagai wilayah seperti Parung, Pekalongan, Langsa, Banda Aceh, hingga Sleman.
Salah satu penerima manfaat, Rosma di Banda Aceh, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima. Baginya, program ini bukan sekadar bantuan, melainkan sumber harapan baru di tengah keterbatasan hidup.
Tak berhenti di dalam negeri, program ini juga mulai menjangkau komunitas internasional di Kroasia, Italia, dan Kazakstan, menandai transformasi gerakan lokal menjadi inisiatif global.
Peran Generasi Muda
Keberlanjutan gerakan ini turut didorong oleh keterlibatan generasi muda. Jadrianna Aletta Sutrisno menjadi Lead Youth Leader 100 CTFP Indonesia sekaligus sosok yang mengawali dukungan terhadap program ini.
Partisipasi kemudian meluas dengan hadirnya para Youth Leader dari berbagai kota dan negara, seperti Ricardo Ryo, Maira Shasmeen, Nathan K. Christanto, Warren G. Sebastian, Darlene Zhang, Kaylee Allison Yap, dan Laetitia Purawinata.
Keterlibatan ini memperlihatkan bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh sejak dini dan menjadi kekuatan penting dalam memperluas dampak gerakan kemanusiaan.
Kisah Kecil, Makna Besar
Dari Italia dan Kroasia, kisah Enza dan putrinya, Allesandra, menjadi contoh nyata bagaimana empati melintasi batas usia dan negara. Di usia 11 tahun, Allesandra turut ambil bagian dalam membantu sesama, menunjukkan bahwa kepedulian dapat ditanamkan sejak kecil.
Melalui program ini, seorang lansia berkebutuhan khusus bernama Ruk kini memperoleh akses pengobatan, asupan gizi selama satu tahun, serta tabungan emas bagi keluarganya. Hal serupa juga dirasakan Sita, yang kini memiliki peluang lebih baik untuk melanjutkan pengobatan.
Dari Anak untuk Dunia
Inspirasi dari Allesandra mendorong anak-anak lain untuk ikut terlibat, seperti Aiden Setiawanto di Singapura dan Jasmine Dzakyra Kurniawan di Jakarta. Fenomena ini memperlihatkan bahwa gerakan kemanusiaan tidak mengenal batas usia.
Harapan yang Tumbuh Diam-Diam
Dukungan terhadap program ini terus mengalir dari berbagai tokoh, di antaranya Rita Pusponegoro, Jenny O, Karin Linggrid Koh, Dewi S. Hartati, Emmy Ranoewidjojo, serta Mepi Lin.
Di tengah berbagai tantangan global, HGHA menjadi pengingat bahwa harapan masih dapat tumbuh dari hal-hal sederhana. Sebuah gerakan yang lahir dari desa, kini menjangkau dunia, membawa pesan bahwa kepedulian adalah bahasa universal yang mampu menyatukan manusia.










