SinarHarapan.id-Stroke masih membayangi masyarakat Indonesia sebagai salah satu pembunuh utama sekaligus penyebab kecacatan permanen. Namun, tahukah Anda bahwa detak jantung yang kacau—bukan hanya tekanan darah tinggi—bisa menjadi pemicu stroke paling ganas?
Dokter spesialis neurologi RS Pondok Indah, dr. Andre, Sp.N, mengungkapkan bahwa atrial fibrilasi (AF), atau gangguan irama jantung dengan denyut serambi lebih dari 300 kali per menit, merupakan faktor risiko utama stroke iskemik. Gangguan ini membuat aliran darah tersendat dan mudah membentuk gumpalan.
“Jika gumpalan darah dari jantung terpompa ke pembuluh darah otak, dampaknya bisa fatal. Stroke akibat atrial fibrilasi cenderung lebih berat, menyebabkan kecacatan lebih parah, bahkan kematian,” jelas dr. Andre dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Baca juga : Penyakit Jantung Bawaan: Ancaman Tersembunyi yang Sering Terlambat Disadari Orang Tua
Waktu Adalah Otak
Dokter Andre menekankan prinsip time is brain. Setiap detik keterlambatan, jutaan sel saraf musnah. Dalam satu menit, sekitar 1,9 juta neuron dan 14 miliar sinapsis otak rusak—setara percepatan penuaan otak 3,1 minggu.
“Kecepatan respons menentukan nyawa pasien. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pulih tanpa cacat,” tegasnya.
Masyarakat diminta mengenali gejala stroke melalui slogan SEGERA KE RS: Senyum tidak simetris, Gerak melemah tiba-tiba, Bicara kacau, Kebas mendadak, Rabun tiba-tiba, dan Sakit kepala hebat luar biasa. Jika satu saja tanda muncul, pasien wajib segera dilarikan ke rumah sakit
Rumah Sakit Berstandar Dunia
RS Pondok Indah – Pondok Indah baru saja dinobatkan sebagai Stroke Ready Hospital dengan predikat Diamond melalui WSO Angels Award 2025 dari World Stroke Organization (WSO). Ini merupakan tingkat penghargaan tertinggi yang menegaskan kesiapan rumah sakit dalam memberikan standar layanan stroke terbaik.
Rumah sakit menerapkan protokol Code Stroke dengan target door-to-needle time di bawah 60 menit—sesuai standar internasional. Tindakan reperfusi seperti trombolisis intravena (pemberian obat penghancur gumpalan) harus diberikan dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul. Adapun trombektomi mekanik dilakukan untuk menarik gumpalan dari pembuluh darah besar otak.
Pencegahan Jauh Lebih Baik
Hampir semua kasus stroke dapat dicegah dengan mengelola faktor risiko. Masyarakat diimbau menerapkan prinsip PATUH: Periksa kesehatan rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan teratur, Tetap diet gizi seimbang, Upayakan aktivitas fisik aman, dan Hindari rokok, alkohol, serta zat karsinogenik.
Bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau merasakan denyut nadi tidak teratur, pemeriksaan kesehatan berkala sangat dianjurkan. “Jadilah pahlawan bagi diri sendiri dan orang terkasih dengan selalu waspada terhadap gejala stroke,” pesan dr. Andre yang juga aktif sebagai peneliti dan narasumber seminar nasional.



