SinarHarapan.id – Di sebuah ruang pertemuan di tengah rangkaian Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Indonesia membawa pesan yang sederhana: sudah saatnya komitmen terhadap perdamaian Palestina diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menyampaikan pesan tersebut ketika menghadiri Ministerial Coordination Meeting of the Group of Eight Arab and Islamic Countries, Senin (21/9) waktu setempat.
Pertemuan itu berlangsung di sela-sela High-Level Week Sidang Majelis Umum PBB ke-81, yang mempertemukan para pemimpin dan pejabat tinggi dari berbagai negara untuk membahas persoalan-persoalan global.
Di tengah forum diplomasi tersebut, perhatian Indonesia kembali tertuju pada Palestina, khususnya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza yang terus memburuk.

“Kita berkomitmen untuk tegaknya perdamaian, tetapi rakyat Palestina belum melihat perubahan nyata,” ujar Sugiono.
Menurut dia, kebutuhan rakyat Palestina dalam jangka pendek sangat jelas: bantuan kemanusiaan harus dapat mengalir, gencatan senjata harus diwujudkan, dan pembunuhan di Gaza harus dihentikan.
Ketika Perdamaian Harus Berarti Sesuatu
Bagi mereka yang hidup jauh dari zona konflik, kata “perdamaian” mungkin terdengar seperti bahasa diplomasi yang biasa muncul dalam forum internasional.
Tetapi bagi keluarga-keluarga di Gaza, perdamaian memiliki arti yang jauh lebih sederhana dan nyata.
Ia berarti makanan dan obat-obatan dapat mencapai mereka yang membutuhkan. Berarti anak-anak dapat tidur tanpa suara ledakan. Berarti keluarga tidak lagi hidup dalam ketakutan. Dan berarti mereka memiliki kesempatan untuk membangun kembali rumah serta kehidupan yang telah hancur oleh konflik.

Karena itu, Indonesia mendorong delapan negara Arab dan Islam untuk tidak berhenti pada pernyataan bersama.
Kelompok yang terdiri atas Indonesia, Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, Türkiye, dan Pakistan tersebut didorong untuk menghasilkan langkah konkret yang dapat membawa perubahan bagi rakyat Palestina.
“Kita harus menyampaikan pesan yang kuat. Kita ingin melihat bahwa upaya yang kita lakukan benar-benar menghasilkan kemajuan dan perubahan bagi rakyat Palestina,” kata Sugiono.
Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari koordinasi delapan negara Arab dan Islam yang dimulai pada High-Level Week SMU PBB ke-80 pada 2025.
Indonesia juga menekankan pentingnya negara-negara anggota menjaga pesan yang seirama dan mempertahankan momentum bersama dalam mendorong perdamaian.
Suara Palestina Harus Menjadi Bagian dari Perdamaian
Indonesia juga menilai bahwa perdamaian yang berkelanjutan tidak dapat dibangun tanpa keterlibatan aktif masyarakat Palestina.
Bagi Jakarta, masyarakat Palestina bukan sekadar pihak yang menerima hasil dari proses diplomasi. Mereka harus menjadi bagian dari proses yang menentukan masa depan mereka sendiri.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk terus membangun komunikasi dengan berbagai mitra internasional dalam mendorong kemajuan proses perdamaian Palestina.
Indonesia juga menegaskan dukungannya terhadap pemulihan dan rekonstruksi Gaza sebagai bagian dari kontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas dunia.
Membawa Palestina ke Panggung Diplomasi Dunia
Sugiono tiba di New York pada Minggu (20/9) untuk memimpin Delegasi Republik Indonesia dalam rangkaian High-Level Week Sidang Majelis Umum PBB ke-81.
Kehadiran Indonesia di forum tahunan tersebut menjadi momentum untuk menegaskan komitmen terhadap multilateralisme sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam mendorong dialog, menjembatani perbedaan dan membangun konsensus.
Palestina menjadi salah satu agenda utama yang dibawa Indonesia.
Selama berada di New York, Sugiono dijadwalkan menghadiri sejumlah pertemuan tingkat tinggi dan tingkat menteri yang membahas isu perdamaian dan keamanan internasional, Palestina, pembangunan, perubahan iklim, serta penguatan multilateralisme.
Sejumlah pertemuan bilateral dengan negara anggota PBB dan mitra Indonesia juga dijadwalkan berlangsung untuk membahas hubungan bilateral serta berbagai persoalan regional dan global.
Indonesia saat ini juga terlibat dalam berbagai upaya internasional terkait perdamaian Palestina, termasuk melalui keanggotaannya di Board of Peace.
Dari New York, Sebuah Pesan untuk Dunia
Ada agenda lain yang dibawa Indonesia ke New York. Pemerintah akan memanfaatkan momentum High-Level Week untuk meluncurkan kampanye pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030.
Pencalonan itu sebelumnya telah disampaikan Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri pada Januari 2026.
Pada Sabtu (26/9) malam waktu New York, Sugiono juga dijadwalkan menyampaikan Pernyataan Nasional Indonesia dalam Debat Umum SMU PBB ke-81.
Dari podium tersebut, Indonesia akan menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan dan tantangan global.
Namun, di balik berbagai agenda diplomasi, pertemuan bilateral dan pernyataan resmi negara, terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana keputusan yang diambil di ruang-ruang diplomasi dapat memberikan dampak kepada manusia yang berada jauh dari meja perundingan.
Bagi rakyat Palestina, terutama masyarakat Gaza, perdamaian bukan sekadar kalimat dalam dokumen internasional.
Perdamaian adalah ketika bantuan kemanusiaan dapat masuk. Ketika senjata berhenti. Ketika keluarga tidak lagi kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Ketika anak-anak dapat kembali belajar dan ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk menata kembali masa depan.
Dari New York, Indonesia ingin memastikan bahwa suara untuk perdamaian tidak berhenti sebagai gema di ruang sidang PBB.
Ia harus bergerak menjadi tindakan.
Sebab pada akhirnya, nilai sebuah diplomasi bukan hanya terletak pada banyaknya pertemuan yang dilakukan atau pernyataan yang dikeluarkan, tetapi pada sejauh mana diplomasi mampu menghadirkan harapan bagi manusia yang paling membutuhkan perdamaian.
(Sumber: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia)











