Internasional

Indonesia Gagas D-8 Jadi Kekuatan Ekonomi Halal Global, Incar Perdagangan Rp9.014 Triliun

×

Indonesia Gagas D-8 Jadi Kekuatan Ekonomi Halal Global, Incar Perdagangan Rp9.014 Triliun

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Indonesia resmi memulai langkah strategis menjadikan organisasi kerja sama Developing Eight (D-8) sebagai kekuatan baru dalam ekosistem ekonomi halal global. Inisiatif ini diwujudkan melalui penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 8-12 Juli 2026, sekaligus menjadi wujud nyata amanah Keketuaan Indonesia di D-8 untuk periode 2026-2027.

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, dalam keterangan pers usai membuka pameran di Senayan, Rabu (8/7/2026), menegaskan bahwa akselerasi ekonomi halal merupakan instrumen strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global. “Salah satu jalannya adalah dengan memperkuat integrasi ekonomi Indonesia dengan dunia Islam, termasuk melalui pengembangan ekonomi halal,” ujarnya. 

Gelaran yang mengusung tema “Strengthening D-8 Halal Economy Through International Collaboration” ini menjadi platform utama bagi pelaku bisnis, investor, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat rantai nilai halal. Upaya ini sejalan dengan target ambisius D-8 yang memproyeksikan peningkatan nilai perdagangan antarnegara anggota hingga mencapai 500 miliar dolar AS atau setara Rp9.014 triliun pada tahun 2030.

Blok kerja sama yang kini beranggotakan sembilan negara pasca-ratifikasi penuh Azerbaijan pada Maret 2025 ini memiliki kekuatan kolektif besar dengan total populasi mencapai 1,3 miliar jiwa atau 16 persen dari populasi dunia, serta produk domestik bruto gabungan sekitar 5,1 triliun dolar AS.

Sinergi ekonomi akan dioptimalkan melalui pemanfaatan D-8 Preferential Trade Agreement (D-8 PTA) yang telah berlaku sejak Juni 2024. Skema tersebut sejauh ini telah menyumbang nilai ekspor nasional sebesar 36,4 juta dolar AS atau sekitar Rp597,2 miliar. 

Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sholahudin Al Aiyub, menegaskan bahwa penguatan ekosistem tidak hanya bertumpu pada kebijakan makro, melainkan pada transaksi riil di lapangan. “Indonesia berupaya memfasilitasi lahirnya kemitraan bisnis, pertukaran pengetahuan, dan transaksi perdagangan yang konkret,” katanya. 

Pameran yang berlangsung selama lima hari ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari ratusan eksportir, importir, dan investor, tidak hanya dari sembilan negara anggota D-8 (Azerbaijan, Bangladesh, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, Turki, dan Indonesia), tetapi juga melibatkan delegasi dari Belanda, Djibouti, India, Palestina, Prancis, Uzbekistan, hingga Yordania.

Agenda ini sekaligus menjadi implementasi komitmen Presiden Prabowo Subianto pada KTT ke-11 D-8 di Kairo tahun 2024 untuk membangun rantai nilai halal global yang berpusat di Indonesia.(Infopublik/IS)