Enam tahun lalu, tepatnya tahun 2020, dunia Alfa Pratomo runtuh dalam sekejap. Serangan stroke pendarahan di otak menghantam pria yang sebelumnya aktif berlari itu tanpa ampun. Usianya baru menginjak 41 tahun saat ia harus kehilangan kendali atas separuh tubuhnya. Alfa mengalami kelumpuhan tubuh bagian kiri. Dua puluh satu hari ia habiskan di ruang perawatan intensif. Hari-hari berikutnya dijalani di atas kursi roda.
Bagi kebanyakan orang, kondisi itu menjadi titik akhir kebebasan fisik. Namun di dalam raga yang sempat tak berdaya, Alfa menyalakan api yang tak pernah padam. “Saya harus pulih dari kelumpuhan stroke dan berlari lagi,” ujar pria yang kini berusia 47 tahun tersebut. Ia menambahkan dengan suara lantang, “Saya harus kembali berada di start line dan merebut kembali finish line saya.”
Tekad yang terdengar mustahil itu ia wujudkan melalui sesi fisioterapi yang menyakitkan. Setiap gerakan kecil ia kumpulkan dengan sabar: menggerakkan jari, berdiri, melangkah tertatih. Hingga akhirnya, keajaiban itu datang. Alfa bisa berlari kembali.
Proses comeback Alfa ke dunia lari tidak berhenti sebagai pembuktian diri semata. Setelah berhasil pulih dan mengikuti Borobudur Marathon tahun 2023 dan 2024, misinya bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ia menyebarkan optimisme kesembuhan stroke melalui olahraga lari. Tahun lalu, pada JAKIM 2025, ia menuntaskan kategori Half Marathon sejauh 21 kilometer. Sebuah pencapaian luar biasa yang bahkan bagi orang sehat pun membutuhkan latihan berbulan-bulan.
Sabtu kemarin, Alfa kembali menepati janjinya pada diri sendiri. Ia turun di JAKIM 2026 dengan kategori 10 kilometer. Bukan untuk rekor, melainkan untuk merayakan konsistensi dan kesehatannya. Saat melintasi garis finish, gemuruh tepuk tangan pecah. Bukan untuk kecepatan waktu, melainkan untuk kemenangan mutlak atas keputusasaan.
Saat ini, Alfa aktif menjadi mentor bagi pasien dan keluarga pasien stroke. Ia mengajak para penyintas untuk pulih dari kelumpuhan. “Bukan harus sembuh berlari seperti saya. Tapi ayo pulih,” ujarnya menegaskan. Dengan lantang, Alfa Pratomo menyatakan bahwa stroke lumpuh bukanlah akhir dari segalanya.