SinarHarapan.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mendorong penguatan pendidikan kesehatan reproduksi bagi santri melalui penyelenggaraan Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren gelombang kedua yang berlangsung di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (30/7).
Kegiatan yang diinisiasi Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) itu diikuti para pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pesantren yang lebih aman, sehat, dan mampu mencegah terjadinya kekerasan seksual.
Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Kerakyatan, Alissa Qatrunnada Wahid, mengatakan pesantren memiliki posisi strategis dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi karena tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai ruang pengasuhan yang membentuk karakter dan nilai-nilai kehidupan santri.

Menurut Alissa, banyak remaja memperoleh informasi mengenai perilaku seksual dari berbagai sumber tanpa dibekali pemahaman yang benar mengenai perkembangan diri dan kesehatan reproduksi. Karena itu, pendidikan kesehatan reproduksi menjadi bekal penting agar santri mampu memahami tubuhnya sekaligus mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab terkait kesehatan reproduksi.
“Pesantren memiliki potensi besar dalam membentuk karakter, kepemimpinan, serta perkembangan pribadi santri karena proses pendidikan berlangsung bersamaan dengan pengasuhan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan halaqah. PBNU akan melanjutkannya dengan pelatihan Training of Trainers (ToT) bagi para ustaz dan ustazah, implementasi di sejumlah pesantren, hingga pembentukan santri sebagai pendidik sebaya (peer educator) yang dapat menjadi agen edukasi di lingkungan mereka.
Selain itu, Alissa mendorong pesantren mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi kesehatan reproduksi. Menurutnya, kalangan muda di lingkungan pesantren, seperti para gus dan ning, memiliki potensi besar menyampaikan pesan-pesan edukatif melalui konten digital yang dekat dengan kehidupan remaja.
Anemia Remaja Masih Tinggi
Dalam kesempatan yang sama, Anggota Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Marlina Rully Wahyuningrum, mengungkapkan bahwa persoalan kesehatan remaja saat ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental serta kesehatan reproduksi.
Ia memaparkan, laporan dari puskesmas terhadap sekitar 3,9 juta siswi kelas VII dan X menunjukkan sekitar 15 persen mengalami anemia. Namun, hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan.
Dari sekitar satu juta peserta didik yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 30 persen terdiagnosis mengalami anemia, mulai dari kategori ringan hingga berat.
Menurut Rully, tingginya angka anemia menjadi tantangan serius karena terjadi pada masa growth spurt, yakni periode pertumbuhan pesat remaja yang membutuhkan asupan gizi lebih tinggi.
Ia juga menyoroti masih banyak remaja putri yang memiliki persepsi keliru terhadap bentuk tubuh sehingga membatasi konsumsi makanan secara berlebihan. Kondisi tersebut berisiko memicu gangguan makan seperti anoreksia maupun bulimia yang berdampak pada kesehatan reproduksi dan tumbuh kembang remaja.
Susun Modul Khusus Pesantren
Halaqah di Pasuruan merupakan penyelenggaraan kedua setelah sebelumnya digelar di Pondok Pesantren Khas Kempek, Cirebon, yang melibatkan para pengasuh pesantren dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Melalui program ini, GKMNU telah menyusun modul pendidikan kesehatan reproduksi yang disesuaikan dengan karakteristik pesantren. Materi di dalamnya tidak hanya membahas kesehatan reproduksi secara komprehensif, tetapi juga pencegahan kekerasan seksual, pencegahan anemia, serta penguatan kemampuan santri dalam mengambil keputusan sehingga tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru maupun tekanan dari lingkungan dan media sosial.











