SinarHarapan.ID – Hubungan ekonomi antara Uni Emirat Arab dan Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan seiring peringatan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara yang telah terjalin sejak 30 April 1976. Kemitraan strategis tersebut semakin diperkuat melalui kerja sama di berbagai sektor, mulai dari energi terbarukan hingga ekonomi digital.
Hal itu disampaikan Duta Besar UEA untuk Indonesia dan Republik Demokratik Timor-Leste, Abdulla Salem AlDhaheri, saat menerima puluhan mahasiswa pascasarjana Georgetown University di kediamannya di Jakarta awal Mei lalu.

Dalam pertemuan tersebut, AlDhaheri menegaskan bahwa hubungan erat antara Presiden UEA Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Presiden RI Prabowo Subianto menjadi fondasi utama penguatan agenda bilateral kedua negara. Sejak dilantik, Presiden Prabowo tercatat telah tiga kali melakukan kunjungan ke UEA, yang mencerminkan posisi strategis negara tersebut bagi Indonesia di kawasan Timur Tengah.
Kerja sama ekonomi kedua negara kini berkembang melampaui sektor tradisional seperti minyak dan penerbangan. Kolaborasi diperluas ke bidang energi bersih, investasi strategis, pelabuhan dan logistik, pusat data dan infrastruktur digital, jasa keuangan, pendidikan, hingga inovasi teknologi.
Kesepakatan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) turut menjadi pendorong utama peningkatan perdagangan bilateral. Nilai perdagangan kedua negara meningkat dari 1,9 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 5,4 miliar dolar AS pada 2024.
Di bidang investasi, arus investasi UEA ke Indonesia sepanjang 2021–2025 mencapai 4,3 miliar dolar AS. Investasi tersebut tersebar di sektor energi terbarukan, pelabuhan, logistik, keuangan, hingga ekosistem digital. Sementara itu, investasi Indonesia ke UEA tercatat sebesar 78,1 juta dolar AS.
Sejumlah perusahaan besar UEA juga aktif menanamkan modal di Indonesia. DP World mencatatkan nilai investasi hingga 7,5 miliar dolar AS, sedangkan Masdar menginvestasikan sekitar 508,9 juta dolar AS, termasuk pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata di Jawa Barat.
Selain ekonomi, kedua negara juga memperkuat kerja sama lingkungan melalui Mangrove Alliance for Climate serta pendirian Mohamed bin Zayed–Joko Widodo International Mangrove Research Centre di Bali sebagai pusat riset mangrove internasional.








