SinarHarapan.id – Penguatan ekosistem otomotif nasional tidak hanya membutuhkan perusahaan yang kuat, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang unggul di dalamnya. UMKM/IKM sebagai bagian dari rantai pasok industri dituntut memiliki SDM yang mampu memahami kualitas, produktivitas, keselamatan kerja, hingga kebutuhan pelanggan. Karena itu, Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) tidak hanya mendorong pengembangan usaha, tetapi juga membangun kompetensi manusia di balik UMKM/IKM binaannya agar mampu tumbuh dan berkembang secara mandiri.
Salah satu gambaran nyata hadir dari PT Bimuda Karya Teknik, IKM manufaktur asal Tegal, Jawa Tengah. Perjalanan PT Bimuda Karya Teknik menjadi bagian dari rantai pasok industri besar tidak terjadi dalam waktu singkat. Di balik pertumbuhan perusahaan tersebut terdapat proses pembelajaran dan penguatan kemampuan SDM yang dilakukan secara bertahap. Yayasan Astra – YDBA memberikan pengetahuan dan pendampingan agar PT Bimuda Karya Teknik memiliki kemampuan dalam mengelola bisnis sekaligus memahami standar yang dibutuhkan untuk dapat bersaing di industri.
PT Bimuda Karya Teknik didirikan oleh Tri Sukamto pada 2 Mei 2018 dan mulai menjadi binaan Yayasan Astra – YDBA. Saat itu PT Bimuda Karya Teknik belum memproduksi komponen otomotif. PT Bimuda Karya Teknik kemudian membangun workshop di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Tegal sembari mengikuti berbagai pelatihan yang diberikan Yayasan Astra – YDBA.
Materi seperti manajemen keuangan, proses produksi, serta pemahaman Quality, Cost, dan Delivery (QCD) menjadi bekal penting bagi Tri dan timnya untuk membangun fondasi perusahaan sekaligus menyiapkan SDM yang memahami tuntutan rantai pasok industri.
Penguatan SDM kemudian dilakukan melalui proses pendampingan yang lebih sistematis. Salah satunya melalui pendekatan 10 Step Productivity, yang membantu UMKM/IKM mengenali persoalan sekaligus membangun kemampuan untuk menyelesaikannya. Proses dimulai dengan mengidentifikasi dan mengonfirmasi permasalahan perusahaan, menganalisis kondisi yang ada, serta menentukan area yang membutuhkan perbaikan. Penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) serta safety assurance juga menjadi bagian penting dalam membentuk SDM yang disiplin, peduli terhadap keselamatan, dan mampu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung produktivitas.
Pembentukan SDM unggul juga diperkuat melalui standardisasi. Perbaikan yang telah dilakukan tidak dibiarkan menjadi praktik sementara, tetapi diarahkan menjadi standar kerja yang dapat diterapkan secara konsisten. Dari proses tersebut, SDM belajar bahwa produktivitas bukan sekadar bekerja lebih cepat, melainkan bekerja dengan proses yang tepat, kualitas yang terjaga, biaya yang terkendali, aman, dan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan. Kemampuan inilah yang kemudian menjadi modal penting bagi Bimuda untuk berkembang dan mengambil bagian dalam rantai pasok industri besar.
Perjalanan PT Bimuda Karya Teknik menunjukkan bahwa membangun UMKM/IKM pada dasarnya adalah membangun manusianya. Filosofi Yayasan Astra – YDBA dalam memberikan “kail, bukan ikan” tercermin dari upaya membekali perusahaan dengan pengetahuan, keterampilan, sistem kerja, dan budaya perbaikan agar mampu berdiri di atas kemampuan sendiri. Ketika SDM semakin kompeten, perusahaan menjadi semakin kuat; ketika perusahaan semakin kuat, rantai pasok industri pun semakin tangguh. Melalui pembinaan yang berkelanjutan, Yayasan Astra – YDBA membuktikan bahwa investasi pada SDM unggul bukan hanya mendorong UMKM/IKM naik kelas, tetapi juga menjadi fondasi bagi terwujudnya ekosistem otomotif Indonesia yang semakin mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan. Foto dan Teks: Ruht Semiono


















