SinarHarapan.id – Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) memaparkan perkembangan situasi regional terkini melalui konferensi pers resmi di Abu Dhabi, Selasa (3/3). Dalam kesempatan itu, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga kedaulatan negara, melindungi warga, serta memastikan stabilitas ekonomi dan layanan publik tetap berjalan.
Konferensi pers tersebut menghadirkan perwakilan dari sejumlah lembaga utama, antara lain Kementerian Pertahanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ekonomi dan Pariwisata, serta Otoritas Manajemen Krisis dan Bencana Darurat Nasional (NCEMA).
Kehadiran berbagai lembaga itu mencerminkan pendekatan terpadu pemerintah dalam menghadapi dinamika regional dengan menekankan transparansi, kesiapsiagaan, dan koordinasi antarlembaga.
Pertahanan Siaga Tinggi
Kementerian Pertahanan UEA menjelaskan perkembangan operasional terbaru terkait keamanan nasional. Pemerintah menegaskan bahwa UEA tidak akan mentoleransi pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas wilayahnya.
Juru Bicara Resmi Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Pilot Abdulnasir Alhameedi, menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata UEA saat ini berada pada tingkat kesiapan operasional tertinggi.
Menurut Alhameedi, militer UEA memiliki sistem pertahanan terpadu yang canggih, termasuk dukungan industri pertahanan nasional. Kapabilitas tersebut memungkinkan negara mempertahankan diri dalam berbagai skenario eskalasi regional.
UEA juga mengoperasikan sistem pertahanan udara berlapis yang mampu menghadapi ancaman dari berbagai jarak, mulai dari sistem jarak jauh, menengah, hingga jarak dekat. Sistem tersebut memberikan perlindungan menyeluruh terhadap wilayah udara nasional.
Selain itu, negara tersebut memiliki cadangan amunisi strategis yang cukup untuk mempertahankan operasi pertahanan dalam jangka panjang.
Sejak awal serangan Iran, pertahanan udara UEA dilaporkan telah menghadapi 186 rudal balistik. Sebanyak 172 rudal berhasil dihancurkan, 13 jatuh ke laut, dan satu jatuh di wilayah UEA.
Sementara itu, 812 drone terdeteksi, dengan 755 berhasil dicegat. Sebanyak 57 drone mendarat di wilayah UEA, sedangkan delapan rudal jelajah berhasil dihancurkan.
Serangan tersebut mengakibatkan tiga korban jiwa dan 68 orang mengalami luka ringan. Kerusakan material dilaporkan terbatas pada beberapa fasilitas sipil.
Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa sebagian besar dampak yang terjadi berasal dari operasi pencegatan sistem pertahanan udara, bukan dari serangan langsung.
Suara ledakan yang terdengar di berbagai wilayah dijelaskan sebagai bagian dari operasi pencegatan atau penembakan target udara oleh pesawat tempur UEA.
Militer UEA terus memantau situasi di wilayah udara, perairan teritorial, dan perbatasan darat sepanjang waktu. Penempatan pertahanan juga diperkuat, termasuk peningkatan sistem peringatan dini.
Pemerintah meminta warga dan penduduk untuk mengikuti arahan resmi serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Jalur Diplomasi Tetap Dibuka
Menteri Negara untuk Kerja Sama Internasional, Reem bint Ebrahim Al Hashimy, menjelaskan dimensi diplomatik dari perkembangan tersebut.
Ia menyebutkan bahwa dalam beberapa hari terakhir UEA dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menjadi sasaran serangan Iran dalam eskalasi regional yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, UEA menegaskan bahwa wilayahnya tidak pernah digunakan sebagai basis tindakan militer terhadap Iran.
Al Hashimy juga menyampaikan apresiasi kepada negara-negara dan organisasi internasional yang telah menyatakan solidaritas terhadap UEA.
Ia menegaskan bahwa pemerintah mengambil pendekatan strategis yang mengedepankan tanggung jawab dan pengendalian diri.
UEA tetap menyerukan penghentian segera seluruh serangan terhadap negara tersebut dan negara-negara tetangganya.
Meski demikian, UEA menegaskan haknya untuk mempertahankan diri sesuai Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional.
Menurut Al Hashimy, keamanan negara-negara GCC tidak dapat dipisahkan. Setiap pelanggaran terhadap satu negara Teluk dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan regional secara kolektif.
Ia juga menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil atau infrastruktur sipil merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Sebagai respons diplomatik, UEA telah menutup kedutaan besarnya di Teheran, menarik misi diplomatiknya, dan memanggil Duta Besar Iran di Abu Dhabi untuk menyampaikan nota protes resmi.
Meski situasi meningkat, UEA tetap menilai dialog diplomatik sebagai jalur paling rasional untuk mencegah konflik yang lebih luas.
UEA juga meminta Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional mengambil langkah tegas untuk mengutuk serangan tersebut dan mencegah kejadian serupa terulang.
Ekonomi Tetap Stabil
Menteri Ekonomi dan Pariwisata Abdulla bin Touq Al Marri menegaskan bahwa ekonomi UEA tetap menunjukkan ketahanan di tengah situasi geopolitik.
Menurutnya, strategi diversifikasi ekonomi dan kebijakan proaktif memungkinkan UEA menyerap tekanan global secara lebih baik.
UEA saat ini memiliki cadangan strategis barang kebutuhan pokok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar selama empat hingga enam bulan.
Arus impor tetap berjalan sesuai rencana melalui jaringan perdagangan yang luas dan mekanisme pengadaan alternatif.
Kementerian juga memantau stok barang dan harga secara harian melalui sistem digital yang terhubung dengan 627 gerai ritel utama di seluruh negeri.
Selama Ramadan, pemerintah telah melakukan 420 inspeksi untuk memastikan tidak terjadi kenaikan harga yang tidak wajar.
Pemerintah juga meminta pelaku usaha menjalankan tanggung jawab sosial dan mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak.
Konsumen dapat melaporkan pelanggaran melalui hotline perlindungan konsumen 8001222.
Pariwisata dan Penerbangan Tetap Berjalan
Sektor pariwisata UEA yang mencakup 1.260 hotel dan lebih dari 40.000 perusahaan terkait tetap beroperasi normal.
Hotel, resor, tempat wisata, dan pusat perbelanjaan tetap dibuka dengan menerapkan standar keselamatan yang berlaku.
Pemerintah juga menyiapkan langkah darurat untuk membantu wisatawan yang terdampak gangguan penerbangan.
Langkah tersebut mencakup koordinasi dengan kedutaan besar, dukungan Dewan Pariwisata Emirates, serta penyediaan akomodasi dan bantuan logistik.
Hotel di Abu Dhabi dan Dubai diminta memperpanjang masa inap bagi tamu yang tidak dapat bepergian akibat gangguan penerbangan.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum juga berkoordinasi dengan mitra regional dan internasional untuk mengaktifkan koridor udara darurat.
Saat ini kapasitas operasional mencapai 48 penerbangan per jam melalui koridor tersebut.
Sejak 1 Maret 2026, maskapai nasional telah mengoperasikan 60 penerbangan yang mengangkut 17.498 penumpang.
Tahap berikutnya akan menambah hingga 80 penerbangan per hari dengan kapasitas lebih dari 27.000 penumpang.
Pemerintah UEA juga menyatakan akan menanggung biaya akomodasi dan kebutuhan hidup wisatawan yang terdampak.
Keamanan Domestik Stabil
Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Brigadir Abdulaziz Al Ahmad menyampaikan bahwa situasi keamanan di seluruh emirat tetap stabil.
Kementerian menjalankan sistem keamanan terpadu yang melibatkan lebih dari 25 lembaga nasional.
Lebih dari 3.200 kendaraan khusus dan 4.100 personel lalu lintas telah dikerahkan untuk memperkuat pengamanan lapangan.
Patroli keamanan, unit respons cepat bersenjata, serta pusat operasi kepolisian terus beroperasi tanpa gangguan.
Layanan Publik Tetap Berjalan
Juru Bicara NCEMA Dr. Saif Juma Al Dhaheri menegaskan bahwa sistem nasional merespons situasi sejak awal dengan koordinasi yang kuat.
Kehidupan sehari-hari di UEA tetap berjalan normal. Layanan energi, air, telekomunikasi, transportasi, kesehatan, dan rantai pasokan tetap beroperasi.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah telah mengaktifkan rencana keberlanjutan bisnis.
Sektor pendidikan juga tetap berjalan melalui platform pembelajaran jarak jauh.
UEA turut menyiapkan rencana operasional untuk membantu pelancong yang terlantar, termasuk melalui penerbangan terkoordinasi, akomodasi, dan transportasi.
Untuk memastikan komunikasi publik yang jelas, pemerintah juga mengaktifkan Sel Media Nasional Gabungan serta sistem peringatan dini.
Pemerintah UEA menegaskan bahwa keamanan nasional dan stabilitas masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Di tengah perkembangan regional yang kompleks, negara tersebut menyatakan akan terus bertindak dengan persatuan, kepercayaan diri, dan strategi yang terukur.












