SinarHarapan.id-Krisis kesehatan mental di era digital telah memasuki fase mengkhawatirkan. Kecanduan media sosial dan maraknya terapi berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan ganda yang dihadapi masyarakat Indonesia, terutama anak dan remaja.
Hal ini mengemuka dalam diskusi umum bertajuk “The Battle for Your Attention: Psychology in the Age of Social Media and AI” yang digelar Sampoerna University di Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-13 kampus tersebut.
Psikolog konsultan asal Australia, Dr. Belinda S.L. Khong, mengungkapkan bahwa penggunaan gawai sejak dini membentuk lonjakan dopamin di otak anak. Zat kimia ini memicu craving—keinginan kuat untuk mencari kepuasan instan secara terus-menerus.
“Dalam jangka panjang, otak justru kehilangan kepekaan alami terhadap kesenangan sehari-hari,” jelas Dr. Khong di hadapan puluhan peserta.
Data menunjukkan Indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan 143 juta pengguna aktif media sosial per Januari 2025 (Data Reportal). Tingginya angka ini berkorelasi langsung dengan peningkatan kasus kecemasan dan depresi.
Menanggapi situasi tersebut, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Regulasi ini mewajibkan orang tua menjadi role model penggunaan internet yang sehat.
Baca juga : Bukan Sekadar Kompetisi: Sampoerna Academy & ALMI Padukan Pendidikan dengan Riset Ilmiah
“Batasi durasi layar, awasi konten, dan ciptakan waktu bebas gawai bagi seluruh anggota keluarga,” tegas Dr. Khong.
Di sisi lain, fenomena terapi berbasis AI juga menguat. Menurut World Economic Forum, 36 persen generasi Z dan milenial global tertarik menggunakan AI untuk konsultasi mental. Di Indonesia, 24 persen masyarakat telah mencoba layanan tersebut.
Namun, lonjakan ini terjadi di tengah keterbatasan akses tenaga profesional. Ikatan Psikologi Klinis mencatat hanya 4.358 psikolog klinis terdaftar per April 2026. Dari jumlah itu, 3.909 aktif praktik dengan rasio 1,43 per 100.000 penduduk—sebagian besar terpusat di Jawa dan Bali.
President of Sampoerna University, Dr. Marshall Schott, menegaskan bahwa teknologi tak bisa dihindari. “Yang penting, institusi pendidikan mempersiapkan lulusan psikologi yang adaptif, namun tidak mengesampingkan hubungan antarmanusia sebagai inti praktik kesehatan mental.”
Pasar global terapi AI diproyeksikan melonjak dari USD 1,8 miliar pada 2025 menjadi USD 8 miliar pada 2030. Namun, Dr. Khong mengingatkan bahwa AI hanya pelengkap, bukan pengganti terapis manusia. “Lulusan psikologi masa depan harus kritis dan mampu mengintegrasikan teknologi secara berpusat pada manusia,” pungkasnya.



