SinarHarapan.id-Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kali ini menjadi momen istimewa bagi Putera Sampoerna Foundation (PSF). Tepat di usianya yang ke-25, lembaga filantropi tersebut menggelar PSF Education Summit: Transforming Lives, Shaping the Future sebagai wujud komitmen memperkuat akses dan kualitas pendidikan inklusif di Indonesia.
Acara yang berlangsung di Jakarta ini mempertemukan pemerintah, komunitas pendidikan, penerima manfaat, pelaku industri, hingga sektor teknologi. PSF secara tegas mendorong kolaborasi lintas sektor. Pasalnya, tantangan pendidikan saat ini tidak bisa ditangani sendiri oleh satu pihak.
“Saat ini, pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tapi juga membutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan masyarakat,” ujar Juwarto, Kepala Seksi Pendidik Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, yang hadir mewakili Kepala Dinas.(13/5)
Juwarto turut mengapresiasi upaya PSF selama seperempat abad dalam memajukan pendidikan, khususnya di Ibu Kota. Ia juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Meski teknologi kian canggih, guru tetap menjadi ujung tombak transformasi pendidikan.
“Lebih dari sekadar menyampaikan pengetahuan, guru hadir dengan hati untuk membimbing setiap siswa menjadi pemenang di masa depan,” tegasnya.
Fokus pada Pemberdayaan Guru
PSF menegaskan bahwa pendidikan yang memberdayakan adalah kunci untuk mentransformasi kehidupan sekaligus membentuk masa depan generasi penerus bangsa. Karena itu, upaya PSF tidak hanya berfokus pada perluasan akses pendidikan berkualitas, tetapi juga penguatan kapasitas guru secara berkelanjutan.
Rangkaian acara Education Summit tidak hanya berisi forum diskusi. PSF juga menghadirkan Workshop Strategi Pembelajaran bertajuk “Kolaborasi dan Visualisasi Pembelajaran di Era Digital”. Workshop ini dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan guru agar dapat mengajar dengan lebih cerdas, efisien, dan berdampak.
