Nasional

Program Bangga Kencana Sosialisasi Keluarga Sejahtera di Bunutan Karangasem

×

Program Bangga Kencana Sosialisasi Keluarga Sejahtera di Bunutan Karangasem

Sebarkan artikel ini
Usia Menikah Ideal Dinilai Cegah Stunting di Karangasem Bali.(Doc : BKKBN)
Usia Menikah Ideal Dinilai Cegah Stunting di Karangasem Bali.(Doc : BKKBN)

SinarHarapan.id-Pagi itu di Balai Banjar Adat Banyuning, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, Jumat 23 Oktober 2026, warga berdatangan sejak pukul 09.00 WITA. Mereka mengikuti sosialisasi dan komunikasi, informasi, serta edukasi Program Bangga Kencana bersama mitra kerja. Kursi-kursi di balai adat terisi warga berbagai usia dengan tertib.

Tuan rumah menyampaikan sambutan hangat kepada peserta. Sejumlah warga duduk rapat di kursi plastik dengan serius mendengarkan setiap arahan panitia. Moderator memandu jalannya acara agar tetap tertib dan khidmat selama acara.

Anggota Komisi IX DPR RI, Tutik Kusuma Wardhani, menegaskan keluarga adalah titik awal membangun desa. Ia meminta orang tua mengasuh dan merawat anak dengan baik agar tumbuh sehat. BKKBN, katanya, akan menjelaskan cara merencanakan keluarga kecil yang bahagia. Warga setempat mendengarkan paparan itu dengan sangat saksama.

Warga Bunutan Diminta Tak Abaikan Peran Ayah Pengasuhan Anak.(Doc : BKKBN)
Warga Bunutan Diminta Tak Abaikan Peran Ayah Pengasuhan Anak.(Doc : BKKBN)

Pranata Humas Ahli Madya Kemendukbangga/BKKBN, Ratna Juita Razak, menyebut BKKBN telah bertransformasi menjadi kementerian. Target Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai jika anak masih stunting. Ia memaparkan empat fase kehidupan: balita, anak dan remaja, dewasa, serta lansia. Orang tua diminta mendampingi anak, termasuk saat menghadapi perundungan dan tekanan mental.

Baca juga :Cegah Stunting Sejak Dini, Tanggamus Perkuat Peran Keluarga lewat Bangga Kencana

Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, mengingatkan bahaya menikah dan hamil di bawah usia 20 tahun. BKKBN menganjurkan perempuan menikah usia 21 tahun dan laki-laki 25 tahun karena kesehatan reproduksi telah siap. Stunting bukan penyakit, tetapi gangguan tumbuh kembang yang membuat anak pendek dan mudah sakit.

Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari empat terlalu: terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, dan terlalu mepet jaraknya. Setelah menikah, pasangan dapat memakai alat kontrasepsi. Jarak anak ideal tiga tahun, lalu pasangan bisa melepas KB. BKKBN juga membantu penyediaan air bersih dan mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas Sosial PPPA PPKB Kabupaten Karangasem, I Gede Budie Trisnawan, menyoroti peran ayah. Fenomena fatherless dinilai membuat anak kurang perhatian. Data menunjukkan kasus bunuh diri di Karangasem tinggi, bahkan Bali masuk tiga tertinggi nasional. Kasus terbaru terjadi di Kecamatan Abang.

Beberapa penyebab fatherless adalah budaya patriarki, tuntutan ekonomi, migrasi kerja, dan rendahnya literasi orang tua. Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung hidup. Peserta mengajukan pertanyaan, narasumber menjawab dengan bahasa sederhana. Panitia membagikan doorprize, lalu peserta berfoto bersama. Suasana balai adat pun kembali hangat sebelum acara ditutup.

Sosialisasi ini bukan sekadar penyampaian materi. Warga diajak memahami bahwa keluarga berkualitas lahir dari perencanaan, pengasuhan, dan komunikasi antaranggota keluarga. Peran ayah dan ibu mesti berjalan seimbang agar anak tumbuh aman dan sehat. Pemerintah desa, kader, dan masyarakat diharapkan menjaga kesinambungan program ini di wilayahnya.

Acara ditutup dengan pesan bahwa Indonesia Emas 2045 dimulai dari keluarga. Warga kembali ke rumah membawa pengetahuan baru tentang usia menikah, jarak anak, dan pendampingan remaja. BKKBN bersama mitra kerja berkomitmen mendampingi warga Bunutan menuju keluarga kecil bahagia. Harapannya, desa pun tumbuh sehat dan sejahtera.