Sinar Harapan.ID – Di sebuah sudut Jakarta Selatan yang terus bergerak cepat, ada ruang kecil yang menghadirkan jeda. Pagi itu, Sabtu, 11 April 2026, udara di Ladang Farm terasa berbeda. Wangi mentega yang dipanggang perlahan bercampur dengan semangat belajar para peserta.
Belajar dari Dapur, Mengolah Mimpi
Di tengah ruang yang hangat, Chef Sari berdiri di depan meja penuh bahan. Tepung, mentega, dan adonan menjadi medium untuk berbagi ilmu. Ia tidak hanya mendemonstrasikan teknik membuat pastry dan cookies, tetapi juga membuka ruang dialog.

Para peserta tidak sekadar menyimak. Mereka bertanya. Mereka mencoba. Antusiasme itu terasa nyata, seolah setiap orang membawa mimpi kecilnya masing-masing,tentang usaha rumahan, tentang kafe sederhana, atau sekadar kebahagiaan berbagi makanan dengan keluarga.
Banyak di antara para peserta sudah memiliki usaha sendiri. Seperti kakak beradik berusia belasan yang telah berjualan kue lewat akun Instagram, The Siblings Spoon. Mereka berdua ditemani sang ibu, yang dengan bangga menceritakan keberhasilan keduanya di usia remaja. “Mereka mau mengembangkan usahanya,” kata sang ibu, yang mengaku tidak ikut campur dengan bisnis putri-putrinya.
Dari Dapur ke Ekosistem Usaha
Nicola Putri Sasmita, Brand Manager Edo, menyebut kegiatan seperti ini sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang inklusif.
Ia menjelaskan, Edo berada di bawah grup Diamond Food Indonesia yang memiliki berbagai lini produk, termasuk bakery. Produk Edo, menurutnya, dirancang untuk menjangkau kebutuhan rumah tangga hingga pelaku usaha kecil.
“Produk kami dibuat agar mudah diakses dan digunakan. Tidak perlu proses rumit, bahkan pemula bisa langsung mulai,” ujarnya.
Bagi Nicola, kemudahan ini bukan sekadar strategi bisnis. Ia melihatnya sebagai pintu masuk bagi masyarakat untuk berani mencoba berwirausaha.

Dari Rasa ke Perhitungan
Belajar membuat pastry ternyata bukan hanya soal rasa. Di sela-sela praktik, peserta diajak memahami hal yang sering terlupakan: menghitung harga pokok produksi.
Di sinilah kelas menjadi relevan dengan realitas. Setiap croissant dan cookies bukan hanya produk, tetapi juga potensi usaha. Peserta mencatat, menghitung, dan berdiskusi. Mereka belajar bagaimana menentukan harga jual tanpa mengorbankan kualitas.
Kepada Sinar Harapan ID, Nicola membagikan kisah nyata. Ada pelaku usaha yang memulai dari garasi rumah, lalu berkembang hingga memiliki gudang cold storage sendiri. Ada pula yang memulai dari jualan sederhana, kini memiliki ratusan karyawan.
Cerita-cerita itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa usaha kecil bisa tumbuh besar, asal ada keberanian untuk memulai.

Menjulang di Tengah Kota
Namun, pengalaman di Ladang Farm tidak berhenti di dapur. Di sinilah peserta menyaksikan wajah lain kota: pertanian yang tumbuh ke atas, bukan ke samping.
Ladang Farm berdiri sebagai pertanian vertikal setinggi 18 meter, yang disebut sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Di tengah keterbatasan lahan kota, konsep ini menjadi jawaban. Dengan sistem bertingkat dan hidroponik, lahan sempit dapat menghasilkan produksi setara satu hektare pertanian konvensional.
Di rak-rak putih yang menjulang, tumbuh berbagai tanaman: selada, mint, hingga basil. Setiap daun dirawat dengan sistem air berbasis gravitasi, menciptakan ekosistem yang efisien sekaligus presisi.
Lebih dari sekadar produksi pangan, Ladang Farm kini berkembang menjadi ruang edukasi dan agrowisata. Pengunjung datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk belajar menanam, memanen, bahkan membawa pulang hasilnya sendiri.
Di tempat ini, pertanian tidak lagi identik dengan sawah luas. Ia hadir di tengah kota, dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menanam, Mengolah, Menjual
Kolaborasi antara Ladang Farm dan Edo mempertemukan dua dunia: produksi bahan dan pengolahan makanan.
Nicola mengungkapkan, ke depan akan ada program edukasi untuk pelajar—mengajarkan dari proses menanam hingga mengolah hasil menjadi produk bernilai ekonomi.
Visinya sederhana: menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.
Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tetapi juga memahami bagaimana sebuah produk bisa diciptakan, diolah, dan dijual.
Jangan Takut Memulai
Pada akhirnya, pesan yang dibawa pulang para peserta bukan hanya resep atau teknik baking. Lebih dari itu, ada dorongan untuk berani melangkah.
“Jangan takut untuk memulai,” kata Nicola.
Menurutnya, banyak orang ragu karena merasa prosesnya rumit atau mahal. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, usaha bisa dimulai dari hal sederhana, bahkan dari selembar adonan.
Di akhir sesi, hasil baking dinikmati bersama. Tawa mengalir ringan. Sebagian peserta saling bertukar kontak, membuka kemungkinan kolaborasi.
Usai belajar memasak, para peserta pun melihat-lihat kebun vertikal setinggi 18 meter. Di rak paling bawahnya, tanaman selada, kale, Thai basil, Italian basil, daun mint, tumbuh dengan suburnya, siap di panen.
Daun-daun selada dan kale sangat renyah. “Tak terasa seperti daun,” kata Larasati, salah seorang peserta. Beberapa peserta pun membeli sayuran yang ditanam secara hidroponik tersebut. Harganya sangat terjangkau.
Ada pula yang melanjutkan pelatihan memasak dengan pelatihan bertanam hidroponik.
Di tengah hiruk-pikuk kota, pagi itu membuktikan bahwa mimpi bisa dimulai dari hal sederhana, dari adonan, dari oven, dari keberanian untuk belajar.





