Internasional

Indonesia–Singapura Perkuat Kemitraan Strategis Hadapi Ketidakpastian Global

×

Indonesia–Singapura Perkuat Kemitraan Strategis Hadapi Ketidakpastian Global

Sebarkan artikel ini

Menlu RI Sugiono menyampaikan bahwa hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura yang akan memasuki usia 60 tahun pada 2027 menjadi momentum penting untuk memperbarui arah kemitraan kedua negara.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono dan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan di Jakarta, Selasa (12/5).

Sinar Harapan.ID – Hubungan Indonesia dan Singapura memasuki babak baru yang semakin erat di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Dalam pertemuan bilateral di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (12/5), Menteri Luar Negeri RI Sugiono dan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama strategis di berbagai sektor, mulai dari energi hijau, ketahanan pangan, industri berkelanjutan, hingga stabilitas kawasan.

Sugiono menyampaikan bahwa hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura yang akan memasuki usia 60 tahun pada 2027 menjadi momentum penting untuk memperbarui arah kemitraan kedua negara.

“Ini bukan sekadar perayaan diplomatik, tetapi kesempatan untuk menghidupkan kembali kemitraan kita untuk dekade-dekade mendatang,” ujar Sugiono dalam pernyataan pers bersama tersebut.

Ia menyebut Indonesia dan Singapura telah membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan strategis, saling menguntungkan, dan tujuan bersama selama enam dekade terakhir. Menurutnya, kedekatan geografis membuat kedua negara “ditakdirkan menjadi tetangga” sehingga membutuhkan kolaborasi yang semakin kuat.

Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri membahas persiapan Leaders’ Retreat mendatang sekaligus mengevaluasi kemajuan konkret kerja sama bilateral di berbagai sektor. Salah satu fokus utama adalah pengembangan perdagangan listrik lintas batas dan investasi energi berkelanjutan yang disebut berpotensi menjadi proyek listrik hijau terbesar di kawasan.

Sugiono juga mengungkapkan kesepakatan untuk memperluas kemitraan agribisnis dan teknologi pangan guna memperkuat ketahanan pangan kedua negara. Selain itu, Indonesia dan Singapura akan melanjutkan pengembangan kawasan industri strategis seperti Batam, Bintan, Karimun, dan Kendal Industrial Park, sekaligus mengeksplorasi pembangunan zona industri berkelanjutan baru.

“Ini bukan hanya proyek ekonomi, tetapi juga peluang menciptakan lapangan kerja, membuka kesempatan baru, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Sugiono.

Kedua negara juga menegaskan kembali pentingnya sentralitas dan persatuan ASEAN di tengah situasi global yang tidak menentu. Sugiono menyampaikan keprihatinan terhadap situasi di Timur Tengah yang berdampak langsung pada keamanan energi dan rantai pasok global. Ia menekankan pentingnya deeskalasi, dialog, dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Sementara itu, Vivian Balakrishnan menyampaikan apresiasi mendalam kepada tim pencarian dan penyelamatan Indonesia atas upaya evakuasi korban di Gunung Dukono, Maluku Utara, yang menewaskan satu warga Indonesia dan dua warga Singapura pada 8 Mei lalu.

Ia menilai keberanian lebih dari 150 personel SAR Indonesia yang bekerja dalam kondisi berbahaya mencerminkan kedekatan emosional antara rakyat kedua negara.

“Insting untuk saling menjaga dan melindungi di masa krisis benar-benar mencerminkan kedekatan hati antara masyarakat Indonesia dan Singapura,” ujar Vivian.

Vivian menegaskan hubungan bilateral Indonesia dan Singapura saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik. Menurutnya, kedua negara selalu saling mendukung, baik saat pandemi COVID-19 maupun dalam menghadapi dampak konflik di Timur Tengah.

Ia juga menyoroti keberhasilan implementasi Expanded Framework Agreement yang mulai berlaku sejak Maret 2024 dan mencakup kerja sama pertahanan, pengelolaan ruang udara, serta penegakan hukum. Kesepakatan tersebut disebut menjadi bukti kemampuan kedua negara menyelesaikan isu strategis secara konstruktif.

Dalam bidang ekonomi, Vivian menegaskan posisi Singapura sebagai salah satu mitra dagang terbesar sekaligus investor asing terbesar di Indonesia selama lebih dari satu dekade terakhir.

“Fakta bahwa kami terus berinvestasi merupakan bentuk keyakinan terhadap potensi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang,” katanya.

Ia menyebut proyek-proyek seperti Nongsa Digital Park di Batam dan Kendal Industrial Park di Jawa Tengah terus berkembang dan membuka peluang baru di sektor ekonomi digital dan ekonomi hijau.

Vivian bahkan menyebut Indonesia sebagai “superpower energi” karena memiliki potensi besar dalam tenaga surya, panas bumi, dan hidroelektrik. Menurutnya, potensi tersebut dapat bersinergi dengan peran Singapura sebagai pusat teknologi dan pembiayaan infrastruktur kawasan.

Dalam konteks geopolitik, Vivian mengingatkan dampak perang di Timur Tengah terhadap pasokan energi Asia, inflasi global, dan sistem internasional berbasis aturan. Ia menilai keberhasilan Indonesia, Malaysia, dan Singapura menjaga Selat Malaka dan Selat Singapura tetap aman dan terbuka dapat menjadi contoh positif bagi dunia internasional.

Pertemuan bilateral ini memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan Singapura tidak hanya bertumpu pada kedekatan ekonomi, tetapi juga pada rasa saling percaya dan visi bersama untuk menjaga stabilitas kawasan di tengah tantangan global yang terus berkembang.

Internasional

SinarHarapan.id –  Upaya Indonesia memperkuat kemandirian teknologi memasuki babak baru. Presiden Prabowo Subianto, menyaksikan penandatanganan kerangka kerja antara Danantara…