Internasional

Dua Diplomat, Satu Jalan Perdamaian

×

Dua Diplomat, Satu Jalan Perdamaian

Sebarkan artikel ini

Dua Mantan Menlu RI Terima Penghargaan Timor Leste

Dr. Hassan Wirajuda, Dr. Ramos Horta dan Dr. Marty Natalegawa. (Foto: Dokumen Istimewa)

Sinar Harapan ID – Di tengah langit cerah Dili, sebuah momen penuh makna tercipta di Istana Kepresidenan Timor Leste, Selasa (19/5). Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta menganugerahkan bintang kehormatan Order of Timor Leste kepada dua mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Dr. Hassan Wirajuda dan Dr. Marty Natalegawa.

Penghargaan itu bukan sekadar simbol diplomasi antarnegara. Lebih dari itu, penghormatan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjang rekonsiliasi, keberanian politik, dan persahabatan yang dibangun Indonesia dan Timor Leste setelah melewati salah satu fase paling kelam dalam sejarah kawasan Asia Tenggara.

Bagi Timor Leste, kedua diplomat Indonesia itu telah membantu mengubah luka sejarah menjadi fondasi kerja sama masa depan.

Presiden Ramos Horta menegaskan, Hassan Wirajuda memiliki peran fundamental dalam proses rekonsiliasi kedua negara melalui pembentukan Komisi Kebenaran dan Persahabatan (Commission of Truth and Friendship/CTF).

Presiden Timor Leste Dr. Ramos Horta dan mantan Menlu RI Dr. Hassan Wirajuda. (Foto: screenshot IG @j.ramos.horta)

“Kontribusi Pak Hassan pada Komisi Kebenaran dan Persahabatan yang dibentuk kedua negara menunjukkan bahwa keadilan dan perdamaian bisa berjalan beriringan,” kata Horta.

Adapun Marty Natalegawa dinilai berjasa besar membuka jalan bagi integrasi Timor Leste ke dalam keluarga besar ASEAN. Dukungan konsisten Marty selama menjabat Menteri Luar Negeri RI dianggap membantu memperkuat posisi diplomatik Timor Leste di tingkat regional.

“Konsep Pak Marty tentang keseimbangan di wilayah regional menjadi referensi bagi negara kecil seperti Timor Leste di tengah-tengah dunia yang multipolar ini,” ujar Horta.

Bagi pemerintah Timor Leste, jasa kedua diplomat Indonesia itu melampaui hubungan bilateral biasa. Mereka dinilai ikut membangun wajah baru Asia Tenggara yang lebih damai, inklusif, dan saling menghormati.

“Mereka berkontribusi membangun arsitektur regional yang lebih stabil, kerjasama yang lebih baik dan lebih inklusif,” tegasnya.

Presiden Timor Leste Dr. Ramos Horta menjabat tangan mantan Menlu RI Dr. Marty Natalegawa. (Foto: screenshot IG @j.ramos.horta)

Momentum penghargaan tersebut terasa semakin emosional karena Hassan Wirajuda dan Marty Natalegawa tidak hanya menerima penghormatan negara, tetapi juga berbagi refleksi intelektual dalam Presidential Lecture Series di tempat yang sama.

Dalam pidatonya yang berjudul “Reconciliation and The Ultimate Goal of Peaceful Resolution of Conflict”, Hassan Wirajuda menyampaikan kisah perjalanan panjang Indonesia dan Timor Leste menuju apa yang ia sebut sebagai “warm peace” atau perdamaian yang hangat.

Menurut Hassan, hubungan Indonesia dan Timor Leste hari ini merupakan contoh langka di dunia internasional. Dua bangsa yang pernah terlibat konflik mampu berdiri kembali sebagai sahabat dan mitra strategis.

“Contoh Israel dan Mesir punya perjanjian perdamaian, tapi kita saksikan perdamaian mereka dingin. Atau Ethiopia dan Eritrea, yang bahkan hingga saat ini masih ada konflik di antara mereka. Tapi berbeda dengan Indonesia dan Timor Leste,” ujar Hassan.

Ia menjelaskan, keputusan Presiden BJ Habibie pada 1999 untuk membuka referendum di Timor Timur menjadi titik balik bersejarah yang lahir dari semangat Reformasi Indonesia. Hassan menyebut Reformasi telah mengubah cara pandang Indonesia terhadap demokrasi, hak asasi manusia, dan penyelesaian konflik secara damai.

Sebagai Menteri Luar Negeri RI pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Hassan berada di garis depan diplomasi rekonsiliasi tersebut. Ia bersama Jose Ramos Horta kala itu aktif meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia dan Timor Leste mampu menyelesaikan luka sejarah melalui mekanisme bilateral, bukan semata tribunal internasional.

Perjuangan itu melahirkan Komisi Kebenaran dan Persahabatan, sebuah model rekonsiliasi unik yang belum pernah ada sebelumnya di dunia.

The establishment of the Commission of Truth and Friendship was unprecedented. There was no existing model for a bilateral truth commission between two sovereign states,” kata Hassan dalam pidatonya. (Pembentukan Komisi Kebenaran dan Persahabatan merupakan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada model yang ada untuk komisi kebenaran bilateral antara dua negara berdaulat, red.)

Ia mengenang bagaimana dirinya bersama Ramos Horta melakukan pendekatan diplomatik ke Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai negara besar demi memperoleh dukungan internasional bagi proses rekonsiliasi kedua negara.

Hassan juga mengungkapkan bahwa istilah “friendship” atau persahabatan sengaja dipilih menggantikan “reconciliation”.

“Bahkan Pak Horta dan Pak Xanana yang mengusulkan penggunaan istilah Persahabatan (friendship) daripada Rekonsiliasi, karena bagi kami rekonsiliasi sudah selesai,” katanya.

Menurut Hassan, pilihan istilah itu sangat penting secara psikologis dan politik. Persahabatan dianggap sebagai simbol bahwa kedua bangsa tidak lagi terjebak pada masa lalu, melainkan melangkah bersama menuju masa depan.

Pidato Hassan menjadi refleksi mendalam tentang keberanian menghadapi sejarah tanpa terus terbelenggu olehnya.

Reconciliation is not about forgetting history. It is about confronting history honestly while refusing to remain imprisoned by it,” ujarnya. (Rekonsiliasi bukanlah tentang melupakan sejarah. Ini tentang menghadapi sejarah secara jujur ​​sambil menolak untuk tetap terperangkap olehnya, Red.)

Ia menambahkan, perdamaian sejati bukan sekadar absennya konflik, tetapi hadirnya rasa saling percaya, kerja sama, dan kesejahteraan bersama.

The true goal is the creation of warm peace – a relationship characterized by trust, friendship, cooperation, and shared prosperity,” tegas Hassan. (Tujuan sebenarnya adalah terciptanya perdamaian yang hangat – sebuah hubungan yang ditandai dengan kepercayaan, persahabatan, kerja sama, dan kemakmuran bersama, Red.)

Perjalanan panjang itu mencapai tonggak penting pada 2008 ketika Indonesia dan Timor Leste bersama-sama menerima laporan bersejarah Per Memoriam ad Spem atau Through Memory Toward Hope. Laporan tersebut menjadi simbol keberanian kedua negara menghadapi masa lalu secara jujur demi membangun masa depan bersama.

Kini, lebih dari dua dekade setelah referendum 1999, hubungan Indonesia dan Timor Leste justru berkembang menjadi salah satu model rekonsiliasi paling berhasil di kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia menjadi salah satu mitra ekonomi terbesar Timor Leste, membuka akses perdagangan, pendidikan, dan konektivitas kawasan. Sementara dukungan diplomatik Indonesia terhadap keanggotaan penuh Timor Leste di ASEAN terus diperkuat, termasuk melalui peran Marty Natalegawa dalam membangun prinsip keseimbangan dan inklusivitas regional.

Di penghujung pidatonya, Hassan menyampaikan kalimat sederhana namun penuh makna.

“Sejarah pernah sekali memecah kita, Indonesia dan Timor Leste. Namun rekonsiliasi telah membawa kita bersama lagi.”