Internasional

Angklung Menggema di Chicago

×

Angklung Menggema di Chicago

Sebarkan artikel ini

Ketika Harmoni Nusantara Menyentuh Pengunjung Field Museum

SinarHarapan.id – Suasana Stanley Field Hall, aula utama Field Museum Chicago, berubah hangat pada Sabtu sore, 16 November 2025. Di ruang luas yang biasanya diisi deretan fosil dan artefak sejarah alam, ratusan pengunjung berdiri melingkar, menanti alat musik bambu dari Jawa Barat membuka kisahnya. Begitu alunan pertama terdengar, museum berusia lebih dari seabad itu seakan berpindah ke Nusantara.

Konser Angklung yang digelar untuk memperingati World Angklung Day sekaligus menandai 15 tahun pengakuan UNESCO atas seni tradisi tersebut, menjadi penegasan baru bagaimana budaya Indonesia mampu membangun jembatan rasa ribuan kilometer dari tanah asalnya. KJRI Chicago, bersama Field Museum, Lighthouse Indonesia, dan Paragon Corp, merangkai panggung yang mempertemukan tradisi, diaspora, dan publik Amerika dalam satu ruang harmoni.

Momen Ketika Chicago Belajar Mendengar

Pada sore itu, maestro muda Manshur Praditya memimpin penonton memasuki dunia angklung. Dengan gaya interaktif dan ritme yang sesekali diolah ulang menjadi format modern, ia mengajak pengunjung tidak hanya mendengar, tetapi ikut merasakan getaran bambu yang berlapis-lapis.

Dari anak-anak hingga lansia, dari mahasiswa hingga wisatawan, semua larut dalam sesi mass angklung play, salah satu bagian yang paling ditunggu. Tawa pecah ketika sebagian pengunjung perlu dua kali mencoba memadukan gerakan tangan dengan nada yang tepat. Namun di situlah letak pesonanya, angklung menunjukkan bahwa harmoni lahir dari kerja sama.

Bahkan penonton dari latar belakang akademis pun ikut terpesona. “The harmony is mesmerizing,” ujar seorang profesor linguistik dari Universitas DePaul. Seorang wisatawan asal Eropa menambahkan, “A brilliant example of how culture connects people beyond borders.

Di tepi aula, pengunjung dapat melihat sertifikat pengakuan UNESCO, panel edukasi tentang sejarah Angklung, serta dua set angklung tradisional yang bisa dicoba langsung. Museum berubah menjadi ruang belajar budaya, lengkap dengan pengalaman tangan pertama.

Diplomasi yang Bernyanyi

Bagi Konjen RI Chicago, Trisari Dyah Paramita, angklung bukan sekadar alat musik. Dalam sambutannya, ia menempatkan angklung sebagai simbol yang merangkum nilai yang menjadikan Indonesia selalu relevan di ruang diplomasi: persatuan dalam keberagaman.

“Angklung membawa pesan tentang harmoni,” ujarnya. “Ia mengingatkan bahwa perbedaan dapat berpadu, menciptakan suara yang indah bila dimainkan bersama.”

Pesan itu mendapat gaung dari pihak tuan rumah. Jaap Hoogstraten, Director of Exhibitions Field Museum, menyebut konser ini sebagai bagian dari komitmen museum untuk terus menampilkan kekayaan budaya dunia. Kolaborasi dengan KJRI Chicago, katanya, memperkaya pengalaman pengunjung dan menambah dimensi humaniora dalam museum yang selama ini dikenal lewat koleksi ilmiahnya.

Presiden Field Museum, Dr. Julian Siggers, dalam pertemuan terpisah, memastikan bahwa kolaborasi seperti ini bukan yang terakhir. Museum telah membuka ruang untuk kerja sama berikutnya, dari pameran temporer hingga rencana konser Gamelan dan Wayang Kulit pada 2026.

Ruang Indah yang Dibangun Bersama

Di balik panggung, kolaborasi erat antara KJRI Chicago dan tim Field Museum menjadi kunci sukses acara ini. Dr. Mimi Cowan, Director for Government Relations museum tersebut, mengingat kembali pertemuan beberapa hari sebelum konser, sebuah diskusi yang cepat tumbuh menjadi kesempatan besar memperkuat diplomasi budaya antara dua negara.

“Kami menyambut inisiatif ini dengan antusias,” ujar Mimi. “Ini adalah contoh kolaborasi yang memberi dampak nyata bagi publik.”

Bagi diaspora Indonesia di Chicago dan Midwest, konser ini menjadi ruang kebanggaan. Sedangkan bagi warga AS, ia menjadi jendela baru melihat Indonesia jauh di luar headline tentang ekonomi atau geopolitik, melainkan sebagai negeri yang menyimpan warisan musikal penuh makna sosial.

Angklung, Dalam Ingatan dan Masa Depan

Ketika konser usai, banyak pengunjung tetap bertahan di aula, mencoba angklung satu per satu, atau berfoto dengan latar panel sejarahnya. Harmoni bambu itu tak hanya berhenti sebagai pertunjukan, melainkan menjelma sebagai percakapan baru tentang budaya Indonesia.

Di tengah derasnya arus global, konser ini menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung di ruang konferensi. Kadang ia hadir melalui nada, senyum, dan getaran bambu yang dimainkan bersama.

KJRI Chicago memastikan bahwa langkah ini akan berlanjut. World Angklung Day 2025 mungkin telah berakhir, tetapi gema diplomasi budaya Indonesia di Amerika Serikat baru saja bertambah kuat. ***

(Sumber: Fungsi Pensosbud KJRI Chicago)