Internasional

Ngariung ala Pakistan, Ketika Silaturahmi Menjadi Jembatan Dua Bangsa

×

Ngariung ala Pakistan, Ketika Silaturahmi Menjadi Jembatan Dua Bangsa

Sebarkan artikel ini

“Ngariung ala Pakistan” itu bukanlah seminar formal, melainkan silaturahmi. tempat cerita mengalir tentang persahabatan, pengalaman lintas budaya, dan potensi yang selama ini luput dari pemberitaan.

SinarHarapan.id – Di sebuah sore yang teduh di Istana Al Barkat, Jakarta, belasan jurnalis Indonesia berkumpul dalam suasana santai namun hangat. Mereka datang memenuhi undangan International Creatives Exchange (ICE), sebuah organisasi kreatif yang lahir untuk menjembatani kolaborasi budaya lintas negara. Di ruangan itu, Atta Ul Karim, pendiri sekaligus Ketua Umum ICE.menyambut tamu kehormatan hari itu: Rahmat Hindiarta Kusuma, Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya, Kedutaan Besar RI (KBRI) di Islamabad,.

“Kalau saya bilang Pakistan itu bagus, mungkin orang mengira saya memuji negara asal sendiri,” ujar Atta sambil tersenyum. “Tapi kalau Pak Rahmat yang bercerita, orang pasti lebih percaya.”

Rahmat Hindiarta Kusuma, Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya, Kedutaan Besar RI (KBRI) di Islamabad, bersama Atta Ul Karim, pendiri sekaligus Ketua Umum ICE (International Creatives Exchange ). (Foto: SHID/Hima Maitreya)

Selebihnya, acara “Ngariung ala Pakistan” itu bukanlah seminar formal, melainkan silaturahmi. tempat cerita mengalir tentang persahabatan, pengalaman lintas budaya, dan potensi yang selama ini luput dari pemberitaan.

Baca Juga: TEI 2025 Perkuat Jalinan Dagang Indonesia–Pakistan

“Jembatan” Bernama ICE

ICE, organisasi kreatif non-profit yang diluncurkan pada 23 Mei 2024 di KBRI Islamabad, dibentuk oleh Atta Ul Karim untuk memperluas kolaborasi antar-komunitas kreatif dunia. Indonesia menjadi salah satu pusat jejaring itu.

“Tujuannya sederhana: menghubungkan manusia,” kata Atta. Menurutnya, kerja sama besar hanya tumbuh dari pertemuan kecil yang tulus’ dari percakapan, kunjungan, dan saling mengenal.

Tak heran, dalam waktu singkat ICE sudah menjadi salah satu simpul penting dalam komunikasi kreatif Indonesia–Pakistan. Mulai dari portal pakistanindonesia.com hingga kolaborasi seni budaya, semua lahir dari semangat menjembatani.

Pakistan Lewat Kacamata Seorang Diplomat

Adapun Rahmat Hindiarta Kusuma mengawali dengan pengakuan jujur: dua tahun bertugas di Islamabad membuatnya semakin menghargai nikmat berbangsa Indonesia.

“Saya pernah ‘mencicipi’ konflik di Syria, merasakan dinamika politik di Amerika, dan tensi politik keamanan di Pakistan ” ujarnya. “Pengalaman itu membuat saya sadar betapa berharganya harmoni yang kita miliki.”

Ia menjelaskan bahwa Pakistan menyimpan kontras yang menarik: persepsi publik soal keamanan sering menutup potensi besar negara itu, padahal masyarakat Pakistan sangat menghormati Indonesia.

“Kalau kita cerita sedikit di media di sana, dilahap habis oleh wartawan Pakistan. Mereka sangat ingin tahu tentang Indonesia,” ujarnya.

Rahmat bercerita tentang hal-hal yang kerap mengejutkan orang Indonesia: bahwa Pakistan punya pegunungan bersalju hanya satu jam dari Islamabad, bahwa para ulama Pakistan ingin belajar kehidupan beragama di Indonesia, hingga bahwa 90 persen minyak goreng Pakistan berasal dari Indonesia.

“Hubungan dagang kita masuk lima besar. Namun potensi sesungguhnya jauh lebih besar,” katanya.

Membangun Saling Percaya

Bagi Rahmat, diplomasi antarmanusia jauh lebih menentukan dibanding naskah perjanjian. Ia mencontohkan bagaimana KBRI mengundang ulama Pakistan berkunjung ke Indonesia, memperlihatkan kehidupan Islam yang damai, ramah, dan beragam.

“Kita ajak ke Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Istiqlal, tradisi ziarah kubur. Beda cara, tapi intinya sama: saling menghormati,” ujarnya.

Melalui perjumpaan itu, persepsi negatif terkikis pelan-pelan. Dari sana tumbuh keinginan berkolaborasi, baik dalam pendidikan, kesehatan, maupun industri kreatif.

Atta menambahkan, “Tidak ada tantangan besar. Selama kolaborasi jalan, semua mengalir.”

Menghapus Jarak, Merayakan Kedekatan

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah wartawan terkesima akan fakta-fakta sederhana yang jarang terdengar: Pakistan punya lembah-lembah bersalju seperti Swat dan Hunza, penerima beasiswa Indonesia terbesar berasal dari Pakistan, dan ratusan mahasiswa Indonesia belajar di Islamabad, Karachi dan Lahore.

Sebaliknya, masyarakat Pakistan pun punya penasaran yang sama besar terhadap Indonesia.

“Mereka bertanya: kok bisa Indonesia menjaga 17.000 pulau? Kok bisa pemilu besar berjalan damai?” cerita Rahmat. “Bagi mereka, Indonesia itu negara yang berhasil menjadikan religiusitas dan nasionalisme sebagai satu identitas. Itu pencapaian besar.”

Dua Bangsa, Satu Semangat Kolaborasi

Ketika acara memasuki penghujung, suasana santai tetap terasa. Obrolan mengalir dari budaya pop Pakistan, potensi sinetron yang belum tersentuh pasar Indonesia, hingga masa depan kolaborasi generasi muda.

“Kalau saya ditanya siapa negara Muslim terbesar, saya jawab saja: Indonesia dan Pakistan adalah dua negara Muslim terbesar di dunia,” ujar Rahmat. “Tidak perlu bersaing. Kita berjalan bersama. Apalagi tahun 2025 kita rayakan 75 Tahun Hubungan Bilateral Indonesia-Pakistan^.

Acara “Ngariung ala Pakistan” akhirnya bukan hanya forum diskusi, tetapi perayaan persaudaraan yang sudah ada sejak lama. Persaudaraan yang kini dipertebal oleh inisiatif kreatif, kunjungan antarbangsa, dan obrolan hangat di meja kopi.

“Yang kita butuhkan cuma satu,” kata Atta menutup acara. “Jembatan. Dan hari ini, kita baru saja membangun satu lagi.”

Internasional

Islamabad –  Peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Pakistan berlangsung meriah di Hotel Movenpick, Islamabad, Sabtu (9/11/2025). Ratusan tamu undangan…